LPM KENTINGAN UNS SOLO

January 13, 2008

PERSMA:ORGAN PENDIDIKAN, HOBI ATAU PERJUANGAN?

Filed under: Uncategorized — lpmkentingan @ 4:31 pm

“5% of the people think, 10% think they think

and the other 85% would rather die than think”

Thomas Alfa Edision

Secara sederhana aktivitas mahasiswa dalam sebuah organisasi bisa dipetakan kedalam tiga blok motivasi: pendidikan, hobi, dan perjuangan[1]. Setiap motivasi membawa bentuk dan corak aktivitas yang berbeda-beda. Pada saat ini sulit mengklasifikasikan mana yang lebih condong pada sebuah organisasi. Dan sebagai konsekuensinya mungkin akan terjadi benturan kepentingan, walau tidak terasa.

Tiga motivasi atau tujuan tersebut yang paling banyak mendapat tempat adalah yang pertama dan kedua: pendidikan dan hobi. Yang ketiga hampir sangat sulit mencarinya pada organ-organ mahasiswa. Di UKM UNS ini bisa dikatakan sebagaian besar adalah yang bergerak pada ranah dua tadi. Mahasiswa ikut sebuah organ dengan motivasi mendapat “ilmu” tambahan selain yang mereka peroleh dari bangku kuliah. Ada juga yang menjadikan organ mahasiswa sebagai tempat melanjutkan atau menyalurkan hobi.

Persma (pers mahasiswa), dimana posisinya dalam ketiga peta tersebut? Inilah yang akan coba sedikit di’pertanya’kan dalam tulisan ini. Persma, setelah hampir dua tahun bersama, aku melihatnya, sebagai wadah atau organ pendidikan. Lebih spesifik lagi sebagai tempat menimba “ilmu” kejurnalistikan. Memang ada beberapa yang lebih condong dengan kehobian seperti fotografi. Namun jika ditelisik lebih dalam maka itu juga bagian dari kejurnalistikan.

Apa sebab dan konsekuensinya jika persma terpaku sebagai organ ‘pembekalan’ ilmu jurnalistik saja, dan pipa penyaluran hobi? Lalu adakah  dalam persma sedikit ruang sebagai organ perjuangan? Adakah yang ini lebih sebagai hal “lain” dalam persma sekarang? Jika persma bergerak dalam ranah perjuangan apa yang harus diperjuangkan? Dan bagaimana bentuk perjuangannya? Ini terkait erat dengan visi-misi persma sendiri dan seberapa kuat hal tersebut terimplementasi dalam nafas gerak keorganisasiannya. Dan tentunya ada beberapa hal struktural yang harus berubah dengan perubahan status tersebut.

 

“Masturbasi ‘Intelektual’ ”

            Persma sebagai organ pendidikan kejurnalistikan jelas sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Persma dalam keadaan apapun akan bergerak dalam dunianya sendiri: tulis-menulis (kejurnalistikan). Namun jika ditelisik lebih mendalam sebenarnya persma, jika berada dalam ranah ini saja, menjadi tidak punya taring sama sekali. Apa lagi persma yang diawaki oleh mahasiswa yang notabene “kaum intelektual”[2] memang sebagai sebuah kutukan sepanjang hidup persma untuk terus dalam posisinya ini.

Pada posisi ini, pegiat persma akan mudah saja berhenti dan merasa puas diri dengan adanya bukti konkret: terbitan baik itu berupa majalah, bulletin, atau bahkan jurnal. Entah itu terbit setiap satu minggu sekali, setiap bulan atau bahkan yang sampai setiap tahun bahkan lebih[3]. Persma dengan bukti itu berarti sudah melaksanakan “kewajiban”nya sebagai organ yang bergerak pada ranah kejurnalistikan. Apakah Anda puas dengan ini semua? Meskipun terbitan Anda pas-pasan dan tidak memiliki pengaruh sama sekali karena mengusung jargon  dan mutu “ASAL TERBIT”?

Sulit sekali beranjak dari posisi ini jika tidak punya idealisme[4] yang lebih dari sekedar “kewajiban” tersebut. Persma akan terseret dalam labirin pemenuhan kesenangan belaka (hobi dan kebutuhan yang kurang bertanggung jawab). Maka tidak mengherankan jika persma Cuma sebagai tempat “masturbasi intelektual”[5] semata. Bahkan harian Suara Merdeka menulis tentang persma dengan judul yang angker “Matinya Pers Mahasiswa”[6] dengan ilustrasi kuburan dimana batu nisannya bertuliskan persma, entah kapan matinya, tapi di sana banyak rerumputan dan rimba pepohonan kecil-kecil menghiasnya. Persma sudah lama mati, demikian kesimpulan ilustrasi itu.

Dalam diskusi dan juga dalam tulisan tersebut bukan menyinggung persma sudah tidak beroperasi lagi, tapi menggugat tentang matinya peranan dan signifikansi keberadaan persma. Hal inilah yang sebenarnya menjadi persoalan dan harus menjadi perhatian persma saat ini. Dan menurut penulis penyebab utamanya adalah persma yang bergerak pada ranah kejurnalistikan dan hobi sebagai “the only” tujuan dan motivasi pegiat persma.

 

UKM Penelitian ( buah pemikiran)

Sebagai Unit kegiatan (kehobian) Mahasiswa, persma memang akan sarat dengan ‘pendidikan’ kejurnalistikan dan tempat menyalurkan hobi. Namun sebagai mahasiswa dan pegiat pers kampus, persma sangat relevan jika bergerak dalam ranah pemikiran, mengingat tuntutan zaman. Mahasiswa sebagai pemuda, pada masa reformasi ini, sangat diharapkan bergerak pada rahah ini.

Majalah Gatra dalam edisi khusus nomor 40 tahun 1X-23 Agustus 2003, dengan judul “Revolusi Kaum Muda” mengingatkan akan hal itu dalam rubric mukadimahnya dengan judul: “Para Pemuda: Melahirkan Kembali Indonesia”.

“Soekarno (1901-1970), Hatta (1902-1980), Sjahrir (1909-1960), adalah pemuda trio pemuda yang merebut pena sejarah pada zamannya. Dalam usia likuran, mereka memimpin gerakan perlawanan terhadap penjajahan, dan pada usia 40-an menjadi para pemimpin Negara—di bawah “tekanan” angkatan yang lebih muda lagi: Adam Malik, B.M Diah, Wikana….”.

lebih lanjut dalam tulisan itu menyebutkan tentang kekecewaannya pada orde baru yang telah membelenggu para pemuda.

“Di bawah rezim Soeharto, sepanjang lebih dari 30 tahun kemudian, republic ini mengapung dalam “gelembung ekonomi”, juga kekerasan, dan korupsi yang tiada tara, hingga akhirnya tersungkur dalam tragedy sendiri—tanpa meninggalkan “buah pikiran”, melainkan cerca dan trauma.”(tulisan ditebal-miringkan oleh penulis)

Hal ini dipertegas oleh Ignas Kleden yang pernah menulis tentang pemuda Indonesia pada masa itu yang masuk dalam ranah pers Indonesia:[7]

“… pers Indonesia—berdasarkan warisan sejarahnya—senantiasa ditandai oleh komitmen sosial-politik yang kuat. Pada awalnya pers Indonesia adalah pers perjuangan, yang didukung oleh intelektual-intelektual terbaik dari zaman perjuangan…. Menarik untuk dicatat bahwa hampir semua pemimpin Indonesia dari generasi ’28 adalah penulis aktif dalam pers”.

Maka lahirlah “buah pikiran” dari anak bangsa masa itu: NASAKOM, MADILOG, MANIKEBU, dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan pemuda asuhan zaman reformasi ini? Munurutku inilah sebuah “tugas suci” yang dibebankan kepada pemuda sekarang.

Dalam banyak diskusi, kawan-kawan banyak yang mengeluhkan zaman reformasi yang tanpa landasan “buah pikiran”. Reformasi yang ada menurut mereka Cuma bertujuan menjatuhkan Soeharto belaka. Tanpa landasan pemikiran sebagaimana Soekarno, Hatta, Sjahrir dsb─penulis sependapat dengan mereka. Maka jadilah Indonesia yang mengapung dalam perahu krisis di samudra yang tidak diketemukan ujungnya.

Persma, menurut penulis, idealnya pada saat ini harus bergerak pada ranah-RANAH PEMIKIRAN baik tentang pendidikan, social atau kebangsaan bahkan dunia. Karena jika hanya pada jalur lurus kejurnalistikan, maka jelas persma akan berhadapan dengan pers umum. Dan ini jelas tidak menguntungkan persma dalam segala hal; modal, SDM, profesionalisme, data dokumentasi, segala. Kecuali mungkin idealisme, jika pegiat persma masih punya? Tentang spesifikasi zona pemikirannya ini menurut penulis adalah wewenang pegiat persma sendiri.

 




[1]  Klasifikasi ini sebenarnya sangat simplisistik dan memojokkan motivasi-motivasi yang lain. Namun penulis menganggap ini secara aksiomatik adalah kebenaran, mengingat pengalaman pribadi dan dalam banyak diskusi dengan berbagai mahasiswa memang seperti itulah adanya.

 

[2] Aku agak menyangsikan tentang ke”intelektual”an awak pegiat persma. Kalau melihat definisnya intelektual sebagaimana Daniel Dhakidae menyebutkan dalam bukunya yang tebal…. Sungguh kesangsian penulis semakin mendapat tempat. Tapi memang seharusnya mahasiswa adalah orang-orang yang intelektual. Kalau tidak mending ke-MAHA-(siswa)-annya dibuang. Siswa saja cukup. Itu sudah terlalu berat disandang jika mau bertanggung jawab secara moral, social, dan tentunya secara akademis.

[3] Yang agak lucu dan menggelikan adalah jika sebuah MAJALAH yang terbit setiap tahun bahkan lebih. Pegiat persma secara tidak langsung dan sengaja membuat definisi majalah sendiri! Mana ada majalah terbit setiap tahun. Itu namanya buku laporan tahunan, namanya!

[4] Mahasiswa yang tidak punya sebuah pegangan atau prinsip (boleh disebut idealisme) maka apa yang menjadi perbedaan mahasiswa dengan orang awam lainnya?

[5] Kata ini penulis dengar pertama kali dari seorang PU LPM Ekulibrium FE UGM dalam sebuah diskusi persma dengan tema “Impotensi Persma” di FE UNS.

[6] Lihat di harian SUARA MERDEKA, Matinya Pers Mahasiswa!, edisi 16 November 2006

[7] Ignas Kleden, “Kebebasan Pers atau kemungkinan Berkomunikasi?” (kata pengantar), dalam bukunya Jacob Oetama, Perspektif Pers Indonesia (Jakarta: LP3ES, 1987). Dalam memasukkan hal ini ada sebagian pegiat persma yang menganggap sebagai “beban sejarah” yang sudah menjadi “romantisme” yang harus segera dilenyapkan. Menurut penulis sejarah adalah “Historia Magistra” yang dari sanalah kita berpijak, bukan melupakannya.

Matinya Pers Mahasiswa !

Filed under: Uncategorized — lpmkentingan @ 3:59 pm

Dulu hampir semua mahasiswa memiliki kebanggaan terhadap penerbitan di kampus masing-masing. Namun kebanggaan itu mulai terkikis, seiring dengan kondisi pers mahasiswa yang makin kolaps di beberapa kampus. Bahkan tidak sedikit yang mati, entah mati suri atau untuk selamanya. Benarkah pers mahasiswa telah mati?

SEKILAS, ketika berbicara tentang jurnalisme kampus, pikiran kita akan tertuju kepada pers mahasiswa. Ini merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), baik di tingkat fakultas maupun universitas, yang dikelola para mahasiswa. Keberadaan UKM Jurnalistik di kampus menjadi sarana penyaluran minat dan bakat mahasiswa di bidang jurnalistik dan tulis-menulis.

Meski demikian, jangan sampai nilai-nilai sosial politik pers mahasiswa terlupakan. Sebab di antara visi pers mahasiswa yang cukup penting ialah sebagai media komunikasi antara mahasiswa dan birokrat; sebagai ruang publik antara kampus dan pemerintah maupun masyarakat; dan sebagai media komunikasi antara mahasiswa dan masyarakat.

Melalui pers mahasiswa inilah tertuang ide-ide brilian mahasiswa dan masyarakat, baik berupa kritik, argumentasi, maupun solusi terhadap persoalan internal dan eksternal kampus. Mulai dari persoalan agama, politik, ekonomi, hukum, hingga pendidikan, dan sebagainya. Dengan begitu, segala macam dinamika kampus dan masyarakat akan selalu terpublikasikan.

Selain itu, pers mahasiswa juga merupakan alat ampuh untuk memperkuat eksistensi mahasiswa. Pers mahasiswa menjadi aset besar bagi kampus dalam mengembangkan wacana-wacana kritis mahasiswa. Dalam dekade pascareformasi sampai sekarang, agaknya mahasiswa sudah tidak lagi mempunyai ke-kuatan yang bisa menjadi agent of change. Gerakan mahasiswa sebagai mobil dari gerakan reformasi tampaknya pada saat ini bergerak dengan dasar pemahaman sendiri-sendiri. Lebih cenderung mengedepankan ego masing-masing, serta merasa ingin menjadi pahlawan yang ingin dihormati tanda jasanya.

Dalam hal ini pers mahasiswa merupakan alat paling efektif untuk memunculkan pemikiran-pemikiran baru dalam konteks kebersamaan, demi tujuan bersama. Tetapi nasib jurnalisme kampus kini sungguh memperihatinkan. Di tengah maraknya media massa baru yang tumbuh subur belakangan ini, produk jurnalisme kampus nyaris tidak terdengar.

Padahal produk jurnalisme kampus di Indonesia pernah mengalami masa kejayaan. Pada awal tahun 1970-an, muncul Harian KAMI, Mimbar Demokrasi, Mahasiswa Indonesia, dan sebagainya. Pembacanya bukan hanya kalangan mahasiswa, tetapi juga masyarakat umum dengan oplah mencapai 30.000 hingga 70.000 eksemplar.

Tidak Populer

Yang lebih tragis, kini pers mahasiswa justru tidak populer di kalangan mahasiswa sendiri. Bahkan tak banyak mahasiswa yang tahu tentang keberadaan pers mahasiswa, kecuali segelintir saja: para pengelola dan aktivis mahasiswa. Padahal jumlah lembaga pers mahasiswa di negeri ini mencapai ratusan. Tidak banyak pula yang menyadari kalau pers mahasiswa merupakan wadah yang sangat baik untuk menempa intelektualitas pengelolanya.

Selain itu, dapat dijadikan pembelajaran bagi yang ingin menekuni dunia jurnalisme profesional. Sebenarnya banyak faktor yang mendukung pers mahasiswa sebagai wadah pembelajaran bagi calon jurnalis sejati. Salah satunya adalah tempat untuk menanamkan idealisme moral -hal penting dan harus dimiliki jurnalis profesional dalam menjalankan tugasnya. Dalam kultur pers mahasiswa, kita dibiasakan untuk memiliki independesi. Satu-satunya keberpihakan adalah pada realitas itu sendiri.

Rendahnya minat baca dan menulis di kalangan mahasiswa atau dosen termasuk faktor-faktor penyebab kemerosotan jurnalisme kampus. Kegiatan menulis di kalangan mahasiswa biasanya dikaitkan dengan kewajiban menulis laporan perkuliahan dan menulis kewajiban skripsi. Akibatnya, karena tak terbiasa menulis, tidak sedikit yang melakukan penjiplakan (plagiasi) atas karya orang lain.

Di sini, sebenarnya para mahasiswa bisa menarik manfaat dari keberadaan jurnalisme kampus. Karena sejak awal dia akan mempelajari bagaimana teknik penulisan, sehingga tidak perlu harus melakukan penjiplakan.

Kurangnya apresiasi dari pengelola kampus terhadap budaya menulis menyebabkan jurnalisme kampus dianggap sebagai kegiatan kurang bermanfaat. Ketatnya jam perkuliahan memang membutuhkan siasat tersendiri bagi yang ingin masuk dalam kegiatan ini. Mereka pun harus mampu mengatur kesibukan mengelola media dan mengatur jadwal masuk kelas.

Kapitalisme Media

Di luar itu, iklim kapitalisme media yang menjadikan acara infotainment di televisi lebih menggugah kesenangan masyarakat juga membuat jurnalisme kampus makin tergeser.

Peredaran surat kabar yang berbau politis sampai porno-grafi tidak jarang membuat media yang dikelola mahasiswa kesulitan menentukan positioning segmen pasar. Seringkali materi berita atau gagasannya sudah basi, sehingga kurang menarik bagi pembaca.

Lebih memprihatinkan lagi, kemerosotan nilai dan mutu itu cenderung mematikan pers kampus, cepat atau lambat. Sebagai konsekuensi dari adanya kapitalisme media, dewasa ini kita betul-betul merasakan kebutuhan untuk menerima informasi secara netral, jujur dan objektif. Selain itu, pers mahasiswa telah memiliki pasar yang jelas yaitu mahasiswa itu sendiri. Tinggal bergantung pada pengelola pers mahasiswa, mampukah mereka mengembangkan kreativitas dan peka dengan kebutuhan pasar.

Sudah saatnya pers mahasiswa sebagai media sivitas akademika maupun masyarakat umum lebih inklusif dan aktif lagi dalam melibatkan pihak-pihak lain yang membutuhkan. Sehingga mahasiswa dan masyarakat umum ikut merasa memilikinya.

Dari sinilah pers mahasiswa sebagai media publik dan penyalur aspirasi akan mendekati kenyataan, sehingga kelak benar-benar menjadi ajang intelektualitas antara mahasiswa dan masyarakat.

Pers mahasiswa harus melakukan reposisi dan reorientasi, seiring perubahan kondisi sosial-politik di Tanah Air. Mahasiswa harusnya jeli dan berpandangan cerdas, pers mahasiswa bukan semata-mata milik pengurus organisasi pers mahasiswa yang ada. Namun bagaimana mereka sadar bahwa ia adalah milik bersama dan harus dijaga serta terus dikembangkan. Karena sangatlah jelas matinya pers mahasiswa berarti matinya demokrasi di kampus ini. Mampukah pers mahasiswa kembali menunjukkan tajinya..? (Dela Sulistiyawan Yunior-32)

diambil dari SUARA MERDEKA, Kamis, 16 Nopember 2006

http://www.suaramerdeka.com/harian/0611/16/opi05.htm

Menyoal Peran Serta Persma

Filed under: Uncategorized — lpmkentingan @ 3:50 pm

Refleksi Hari Pers Nasional[1]

Refleksi atau pun kontemplasi bisa saja sebagai media penghakiman diri. Yang jadi hakim adalah yang dihakimi itu sendiri. Kasusnya adalah aktivitas, visi-misi sebagainya, terkait dengan eksistensi masa depan. Keputusan yang dihasilkan bisa sebuah komitmen, pemantapan visi-misi, restrukturisasi kelembagaan dan seterusnya. Dan refleksi bisa datang hanya dari sebuah pertanyaan atau bisa juga dari pikiran besar bahkan guyonan kecil.

 

Pertanyaan awal bisa: Kenapa pada zaman “romantisme” pers mahasiswa (selanjutnya persma) tidak tersentuh oleh penguasa otoriter? Persma begitu garang dan berada di garda terdepan dalam mengkritisi pemerintahan. Bahkan Daniel Dhakidae menyebutnya sebagai adversary journalism, jurnalisme perlawanan[2]. Persma begitu gigih menyatakan diri sebagai oposan sejati pemerintahan otoriter.

Di sisi yang lain pers umum banyak yang dibredel atau paling tidak harus banyak menyesuaikan diri dengan keinginan sang Jendral Soeharto. Pemerintah pada persma mengeluarkan surat perintah NKK/BKK[3], bukan mencabut Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Pertanyaanya jika dikerucutkan: apakah benar persma adalah pers, punya SIUPP? Yang sesuai dengan UU No.40 tahun 1999 tentang Pers yang mengharuskan berbentuk lembaga sosial dan perusahaan pers harus berbentuk Badan Hukum Indonesia[4]?

Lalu pantaskah persma jika ikut merayakan Hari Pers Nasional (HPN)? Bukankah pers umum—maaf bukan bermaksud menuduh—telah ‘membunuh’ persma? Jika toh persma adalah pers, pantaskah persma memperingati HPN, di saat posisi dan peran sertanya terhadap dinamika sosial-politik-ekonomi masyarakat sudah mati atau minimal sangat dipertanyakan[5]?

Sosok persma

Jawaban atas pertanyaan tersebut mungkin: ya, tidak atau tergantung. Tapi sudahlah kita akhiri perdebatan tentang nama dan status sosial-hukum persma yang akan menjauhkan dari masalah yang lebih vital, peran serta persma terhadap persoalan kerakyatan. Masyarakat tidak akan melirik hanya karena nama dan status tanpa adanya sumbangsih pada perbaikan masyarakat, apalagi rakyat terus bergelut dengan krisis yang tidak kunjung berakhir plus bencana yang selalu siap menerkam.

 

Jika kita mempertanyakan peran serta persma, maka posisi persma bukan lagi sebagi lokus, medium di mana informasi saling dipertukarkan, dikirim atau disebarluaskan. Tetapi persma sebagai sosok, entitas atau lebih jauh lagi sebagai kekuatan sosial. Karena jika persma diposisika sebagi lokus tentu saja dia kalah telak dengan pers umum.

Dalam pandangan ini (persma sebagai lokus) persma diposisikan sebagai refleksi atau cermin dari realitas masyarakat. Pandangan ini kemudian melahirkan asumsi: media (persma) yang berada dalam struktur masyarakat yang otoriter maka media akan mencerminkan sikap dan nilai-nilai otoriter, jika struktur masyarakat menganut isme liberal maka persnya akan berkarakter libertarian, demikian juga jika struktur masyarakatnya demokratis maka persnya juga demokratis[6]. Namun dalam sejarah persma teori ini malah terjadi yang sebaliknya. Persma tidak otoriter malah memperjuangkan nilai-nilai demokratis-liberal.

Berdasarkan pandangan ini posisi persma sebagai resipien atau konsumen dari berbagai perubahan atau interaksi sosial ekonomi-politik di luar dirinya. Pada posisi ini pers sering berada di tangan penguasa, pemerintah otoriter, pemerintahan demokratis oligarkis, atau para kapitalis.

Sedangkan posisi persma sebagai sosok, entitas atau kekuatan sosial maka persma bisa diasumsikan sebagai sesosok manusia. Dia memiliki berbagai organ yang saling mendukung untuk pergerakannya. Sampai di sini permasalahan yang dihadapi persma bisa datang dari berbagai organ internal atau eksternal, seperti maraknya penerbitan. Yang terpenting dalam menghadapi permasalahan ini adalah otak (visi-misi atau yang paling mungkin adalah ideology persma). Dialah yang memberi komando kemana arah yang dituju dan bagaimana merespon terhadap permasalahan internal-eksternal.

Reinvensi ideologi persma

Ideology persma sangat penting sebagai motor penggerak laku idealis-revolusioner jurnalistiknya(?). Menurut Frans Magnis Suseno[7], ideologi dimaksudkan sebagai keseluruhan sistem berfikir, nilai-nilai dan sikap dasar rohaniah sebuah gerakan, kelompok sosial atau individu. Ideologi dapat dimengerti sebagai suatu sistem penjelasan tentang eksistensi suatu kelompok sosial, sejarahnya dan proyeksinya ke masa depan serta merasionalisasikan suatu bentuk hubungan kekuasaaan. Sistem ideologi persma selama ini tidak pernah diajarkan karena sebenarnya tidak ada kesepakatan umum tentang ideologi persma. Sehingga mustahil disosialisasikanya ideolgi persma pada anggota baru. Dan kalau pun persma mempunyai ideologi bagaimana mentransfer pada anggota baru?

 

Pada tahun yang lalu (Ciputat, 24-28 Juli 2006) sempat diadakan diklat jurnalistik tingkat lanjut yang mengambil tema “Penguatan Peran Pers Mahasiawa terhadap Problematika Kerakyatan” dengan genre “Jurnalisme Advokasi” oleh Forum Pers Mahasiswa Jabotabek (FPMJ). Dalam diklat tersebut mereka mencoba mencari jalan keluar kebuntuan atas peran persma yang tidak terlihat secara eksplisit, yang disebabkan oleh ideologi persma yang tidak jelas. Diklat tersebut berusaha mereposisi ideologi persma karena banyak yang mengatakan bahwa internal (ideologi) persma sebagai masalah dasarnya di samping masalah manajerial persma sendiri.

Permasalahan ini banyak menyebabkan ekses negatif pada tubuh persma mulai dari perubahan segmen yang makin mengerucut pada mahasiswa saja (back to campus); kurangnya kepekaan terhadap dinamika sosial masyarakat; sampai pada lemahnya atau bahkan matinya daya juang pegiat persma dalam mengartikulasikan aspirasinya baik di tingkat kampus maupun nasional.

Persma seharusnya memiliki ideologi yang menyuguhkan kerangka atau konsep orientasi dasar (katakanlah sebagai pondasi dasar, jika itu sebuah rumah), sedangkan dalam operasional keseharianya akan selalu berkembang disesuaikan dengan norma, prinsip moral dan cita-cita masyarakatnya (open ideology). Operasionalisasi dalam praktek kehidupan masyarakat tidak dapat ditentukan secara apriori melainkan harus disepakati secara demokratis sebagai bentuk cita-cita bersama. Dengan demikian ideologi terbuka bersifat inklusif, tidak totaliter dan tidak dapat dipakai untuk melegitimasi kekuasaan sekelompok orang.

Namun selama ini pengkaderan anggota persma masih konvensional, terlalu fokus pada ilmu kejurnalistikan dan masih belum menyentuh pada tataran ideology persma yang idealis idealis-revolusioner jurnalistiknya(?). Pemahaman kejurnalistikan sejatinya cuma sebagai media untuk mengaktualisasikan ideology, bukan motor penggerak.

Kurang tersentuhnya ideologi persma selama ini disebabkan hilangnya orientasi persma pasca 1998. Padahal ideology bisa menjadi motor penggerak pegiat persma dalam menjalani laku idealis-jurnalistiknya(?). Motor penggerak ini hampir tidak pernah didiklatkan oleh pegiat persma selama melakukan pengkaderan. Kalau dalam ajaran agama ideology (tauhid jika dalam agama Islam) ini sangat penting sehingga diajarkan pada awal seorang pengikut masuk dalam agama tertentu. Sedangkan dalam pengkaderan persma, ideologi menjadi barang yang ‘tabu’ untuk didiklatkan apalagi didogmakan pada anggota barunya.

Perubahan persma masih seputar perubahan tampilan (lay out), sekmen pasar (back to campus) dan bentuk media (dari majalah ke jurnal, tapi cuma sebagian persma). Sedangkan perubahan yang lebih mendasar (ideology) hampir tidak ada yang begitu signifikan.

Kecenderungan persma sekarang memang mengarah pada jurnalisme sosial dan jurnalisme pop. Persma lebih banyak menyoroti masalah sosial masyarakat umum dan kehidupan segmen pasarnya, mahasiswa yang begitu kental dengan budaya pop.

Apakah itu relevan dengan tuntutan jaman sekarang? Jawaban untuk pertanyaan itu mungkin masih terlalu dini untuk dikemukakan sekarang. Persma sekarang ini masih dalam fase metamorfosis. Bisa dikatakan belum sampai pada puncak pencarian diri. Sejarah masa depan persma memang sebuah alam gelap penuh ketidakpastian. Masih belum bisa tersentuh dengan teleskop futurulogistik sebagaiman banyak digunakan oleh para futurulog.

Sebuah pencarian, apalagi jika itu sebuah kebenaran, memang tidak harus “sekali berarti, sesudah itu mati”, meminjam sajaknya Chairil Anwar. Kecuali, jika itu sudah final decision bagi nasib persma (???/!!!/…).

 

 


[1] Di tulis oleh M. Fauzi, mahasiswa sastra Inggris UNS, Solo. e-mail:fauzi_sukri@yahoo.co.id

[2] Lihat, Daniel Dhakidae, Penerbitan Kampus: Cagar Alam Kebebasan Pers, PRISMA, No.10 Oktober, 1977

[3] Baca Suprianto, perlawanan pers mahasiswa sepanjang NKK/BKK

[4] Lihat undang-undang Republik Indonesia No.40 tahun 1999 tentang Pers, bab I pasal 1 dan pasal 9 ayat 2

[5] Baca SUARA MERDEKA, Matinya Pers Mahasiswa!, edisi 16 November 2006

[6] Fred S. Siebert dkk, Empat Teori Pers terbitan Intermasa Jakarta

[7] Franz Magnis Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, 1991, hlm 230.

January 8, 2008

Persona Manusia

Filed under: tulisan harian — lpmkentingan @ 12:22 pm

Persona Manusia

“Intinya itu, bagaimana selalu mampu menciptakan ruang.
Kita selalu mampu melihat peluang
tempat kita mampu menjadi diri sendiri”.

(sebuah email balasan dari seorang teman DA, pukul 00.13 WIB,
yang dikutip dari perkatann seorang seniman koreografer terkenal Indonesia asal Solo, Sardono W. Kusomo)

Dari perkataan yang lumayan puitis itu, bisa disimpulkan bahwa yang paling penting dari esensialtas manusia untuk menjadi Manusia adalah ruang, yang kalau tidak ada menciptakan ruang-menjadi. Ini hampir senada dengan apa yang dikatakan oleh sastrawan Inggris Bernard Shaw, “Kebanyakan orang percaya pada keadaan. Tapi saya tidak pernah percaya pada keadaan. Orang yang berhasil di dunia ini adalah orang yang bangkit dan mencari keadaan. Keadaan yang mereka inginkan, dan kalau tidak bertemu, menciptakan keadaan-keadaan tersebut.”
Memang ada perbedaan yang signifikan antara kedua perkatann itu namun keduanya berangkat dari satu pemahaman akan pentingnya sebuah ruang. Manusia, siapapun dia, memang tidak akan pernah lepas dengan sebuah ruang untuk fisiknya. Kendati demikian dia akan terus mencari dan mencari saesuatu yang bisa melebihi sebuah ruang untuk sesuatu yang tidak memerlukan ruang. Ia adalah sebuah imajinasi, buah pikiran, sebuah mimpi, untuk membuat dia benar-benar menjadi Manusia.
Yang mungkin agak dinomorduakan dari perkataan Sardono itu adalah “menjadi diri sendiri”; seperti apa sebenarnya sosok “diri sendiri” dalam manusia. Ini adalah sebuah pertanyaan yang ekstra klasik yang sampai sekarng manusia terus meredefinisikannya, mencari batasan-batasan, mencari lingkup-lingkup untuk dimasukkan. “Manusia yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya” (man ‘arafa nafsahu, ‘arafa Rabbahu), yang dulu sering saya dengar di pondok, dari perkataan para sufi-pemikir Islam, dan terus menerus diwariskan pada generasi berikutnya. Konon katannya, itu adalah perkataan Nabi Muhammad. Dan beberapa tahun ini, perkataan itu aku temukan juga dalam buku-buku filsafat Barat klasik sebelum Aristoles dan Sokrates.
Hal ini menunjukkan betapa yang namanya Manusia adalah sebuah entitas super kompleks, yang oleh karenanya ia sama sukarnya dengan Tuhan untuk didefinisikan oleh ciptaan-Nya yang paling sempurnya, manusia sendiri. Lalu apa dan siapa Manusia menurut Tuhan dan manusia? Belum terjawab tuntas, setidaknya untuk seorang Fauzi bodoh. Dan tulisan ini juga bukan untuk menjawab pertanyaan besar tersebut. Tulisan ini Cuma sekadar untuk mendiskribsikannya.
Manusia, menurut saya, akan lumayan menjadi Manusia pada saat dan ruang dimana bagian dari dirinya sedang terbagi dengan manusia yang lain. Ia menjadi manusia yang tidak utuh untuk dirinya sendiri, dan menjadi utuh Manusia untuk dan dengan orang lain. Saat-saat itu mungkin tatkala ia sedang ‘menyatu’ dengan manusia yang lain. Katakanlah dalam ikatan “pacaran-cinta”, pernikahan, atau bisa juga terikat dalam sebuah rasa kemanusiaan (nilai-nilai moral/agama). Setidaknya manusia memiliki perasaan utuh sebagai Manusia pada saat-saat itu.
Contoh klasik sekali akan hal ini adalah penciptaan Hawa oleh Tuhan atas “permintaan” Adam (atau bisa juga menggunakan kata “untuk Adam”). Di sebuah surga yang serba tersedia apapun secara otomatis, adalah sebuah keganjilan akan sosok manusia, Adam, yang masih menginginkan seorang yang “lain”, yang berbeda dalam beberapa hal dengan dia. Adam seperti merasa ada sesuatu yang mengurangi kediriannya, yang mereduksi kemanusiaanya walau Iblis merasa iri atasnya, yang Tuhan dengan tugas memuliakannya. Inilah sebuah bukti betapa manusia memang tidak untuk dengan kelengkapan dan kesempurnaan dirinya, ia membutuhkan sesuatu yang lain.
Yang berikutnya adalah sebuah ikatan religius yang sering dikatakan pernikahan. Dalam ritual ini, proses “pacaran-percintaan” mendapatkan pengesahan secara agama dan legal. Tentu adanya pengesahan tersebut tidak jauh dari kebutuhan akan penyempurnaan kedirian manusia. Bahkan yang lebih ekstrem lagi, untuk memenuhi hal itu adalah mereka merasa perlu untuk melegalkan pernikahan antar kaum pria dengan pria, pun kaum wanita dengan kaum wanita. Entah hal itu dibenarkan oleh agama atau hukum, hal tersebut cukup membuktikan betapa menusia membutuh yang lain untuk kediriannya untuk menjadi Manusia.
Dan terakhir adalah saat manusia berada dalam ruang nilai-nilai moral, agama, atau kemanusiaan. Manusia merasa dirinya Manusia yang utuh pada saat nilai-nilai moral, agama, kemanusiaannya, memerlukan sebuah ruang atau tempat untuk mengaktualisasikan, untuk mengada yang akan menyempurnakannya menjadi Manusia. Contoh untuk hal ini hampir setiap hari terjadi dalam kehidupan kita. Kita merasa bukan manusia pada saat kita tidak menolong orang yang sedang kesusahan dan kita mampu untuk menolongnya. Atau, kita akan menuduh orang lain sebagai “binatang” pada saat orang lain tersebut kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.
Orang yang cukup banyak persedian nilai-nilai tersebut dan bisa mengaktulisasikannya dalam tindakan nyata, maka dia akan merasa bahwa dia sebagai Manusia. Bahkan yang melebihi dari yang biasa dilakukan oleh “manusia”biasa akan dipanggil seorang “nabi”. Dan memang seroang nabi adalah seorang yang memiliki seluruh kapasitas kemanusiaan yang utuh. Sekali lagi hal tersebut di atas membuktikan bahwa kemanusiaanya Manusia terikat oleh manusia yang lain.
Tiga contoh tersebut menyimpulkan bahwa ruang-ruang dalam kehidupan manusia untuk menjadi Manusia memang bukan sesuatu yang konkret bahkan cenderung non-konkret, abstrak, yang mnyentuh sisi-sisi manusia yang paling susah untuk didefinisikan. Dan sepertinya sebuah pendefinisian akan mereduksi dan mengurangi sisi-sisi Manusia itu sendiri. Oelh sebab itu, sebuah perasaan tidak akan pernah terdefinisikan oleh berjuta kata-kata untuk membatasinya. Ia seluas dan sesulit manusia itu sendiri. Definisi tidak bisa menyentuh, walau Cuma sisi luarnya saja.
Maka sungguh sebuah keharusan untuk bersyukur bagi Manusia yang berani merelakan kediriannya sendiri untuk menjadi Manusia. Dia tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sang Budhis yang merelakan bagian dirinya untuk orang lain.
Maka bersyukurlah Manusia yang memiliki Cinta-Kasih, dan jagalah ia sebagai sebuh cinta yang ber-”manusia”, bukan yang hewani. Dan bersyukurlah bagi mereka yang mengaktualisasikan nilai kemanusiaanya untuk manusia.
Karena: betapa sedikitnya semua itu ditemukan oleh Manusia, meski semua itu ada padanya! Dan bagi Anda yang bersyukur, selamat Anda berhak merayakan Tahun Baru.

Solo, Senin, 31 Desember 2007, pukul 18.30 WIB.©Fauzi, jëlêk.

New Year 2008

Filed under: Uncategorized — lpmkentingan @ 12:18 pm

Angka 00.00

Beberapa hari yang lalu sebuah ritual tahunan dilakukan oleh manusia yang dicap sebagai modern. Mereka berkumpul di alun-alun kota (city park) hampir di seluruh dunia. Entah apa yang mereka takjubkan dari serangkaian angka 00.00. Sebuah angka kosoooooong yang Cuma dikenal oleh manusia modern dari beberapa abad yang lalu.

Pada saat sang waktu menunjukkan angka 00.00 sebuah keheningan mengiringi angka itu sesaat sebelum ngepas menunjukkan angka itu. Dan seperti tersengat aliran listrik yang sangat kuat, mereka berteriak, bersorak bersama. Entah karena apa, apakah karena angka itu dengan embel-embel sebuah angka tahun, 2008?

Tidak ada sebuah penjelasan yangrasional atau masuk akal, jika memakai ukuran rasional manusia modern. Yang ada, bagi saya, adalah sebuah kebingunngan yang menjadi-jadi. Bukankah angka itu terjadi setiap malam, saat kita ngorok ditemani bantal sambil membuat beberapa pulau kecil, dan sesekali kita bermimpi? Sungguh angka itu angka yang terlalu biasa untuk diukur, apalagi dengan ukuran uang. Hampir tidak ada nilainya sama sekali! Angka itu tidak berarti kecuali ia mengikuti angka rupiah yang begitu digdaya pada zaman kita.

Dan yang agak aneh lagi adalah saat angka 00.00 mulai beranjak bertambah. Saat itu ada beberapa firework, kembang api, yang seakan menjadi sebuah keniscayaan untuk menikmati angka 00.00 beranjak dan angka satu nongol dibarengi oleh bilangan 2008. Lalu, orang-orang modern bersuka cita, berpelukan bersama pacarnya, melongo, membelalakkan mata, ada sebagian yang berdoa…

Menurut aku saat itu tidak ada bedanya dengan teman-teman sebangsa kita di pelosok Irian Jaya, pedalaman Kalimantan, dan sebagainya,  yang belum begitu mengenal  angka-angka aneh itu. Mereka hampir setiap ada upacara menyalakan api, lalu mereka mengelilinginya sambil bernyanyi, entah dengan tujuan apa…

Saat itu mereka yang di sana, menyembulkan berbagai ucapan, mantra, doa-doa yang kita tidak tahu: ada yang berbunyi hu..hu..hu.., ada juga hula..hula.. hula.., di depan berbagai percikan api sambil mengelilingi menari, dengan tongkat dan sebagainya..

Inilah sebuah ritual persembahan dan penghormatan yang mereka persembahkan buat nenekmoyang mereka yang telah tiada. Ada kesakralan di sana dan rasa takdim. Bukan sebuah ketakutan akan bahaya api, sebagai mana nenek moyang mereka menemukan apai pertama kali. Apalagi sebuah kesia-siaang. Namun manusia modern merayakan sebuah angka dengan api untuk sebuah ketiadaan, dan kesia-siaan. Aneh.

Apa bedanya dengan kembang api yang sering dirayakan dengan bersuka cita, jika dibandingkan dengan api yang digunakan oleh mereka yang berada di pedalaman sana? Hampir tidak ada. Karena intinya itu adalah sebuah api.

 

Perlukah semua itu? Apakah tidak sebaiknya uang jutaan rupiah itu kita belikan sembako untuk saudara-saudara kita yang terkena bencana? Sudah bertahun-tahun kita selalu mengalami “Desember Kelabu”. Sekali pikirkanlah! Ato, memang kita bukan manusia?

About New Comers

Filed under: Uncategorized — lpmkentingan @ 12:14 pm

Hei Anggota Baru,
Emang, KAMU SIAPA?
Jangan negative thinking dulu, tapi negative pun itu perlu. Tapi terima kasih kalau Anda sudah mau bermurah hati untuk berpikir. Dalam sebuah organisasi, terutama media seperti Lembaga Pers Mahasiswa, diperlukan sejumlah orang yang berbeda-beda. Maka dari itu dalam berbagai organisasi terdapat berbagai bidang yang berbeda-beda, bukan hanya untuk membagi pekerjaan tapi lebih dari itu: the right men for the right place (ditambah skill dan hobby). Kalau dalam sebuah UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) memang tidak ada “job” yang sesungguhnya, namun lebih pada “hobi” yang disukai (debatable).
Dalam sebuah lembaga pers, sangat perlu adanya orang-orang yang berbeda baik segi kesukaan, skill, kebiasaan, dan sebagainya. Untuk itu, sangat perlu untuk mengidentifikasi spesifikasi seorang anggota baru. Hal ini dilakukan untuk menentukan orang–orang yang tepat pada waktu tempat dan karakter pekerja yang tepat.
Lalu, siapa dan apa karakter Anda, anggota baru? Berikut beberapa kriteria manusia dalam sebuah organisasi:
Analis
Anda masuk dalam nominasi ini jika Anda memiliki criteria:
1. Kritis
Bagi orang ini segala sesuatu di dunia ini selalu menarik untuk diselidiki dan melihat ke masa depan dari apa yang dia analisis. Dia sering masuk dalam jajaran para futuris seperti Alfin Tofler, pengarang buku Mega Trend (sorri lupa namanya), dan seterusnya. Dia selalu tertarik untuk men-SWOT sebuah acara, Lembaga, bahkan seorang manusia yang menjadi temannya.
2. X= bukan Y
Dia identik dengan homo soviecus atau homo orbacus (orang orde baru yang munafik), yang selalu menyunjung perkataan atau prinsip Pramodya Ananta Toer yang berdalih bahwa segala suatunya itu bisa dirumuskan dengan X= bukan Y. So, apapun yang terjadi pasti memiliki kemungkin bahwa semua itu Cuma sekadar luaran belaka, tidak nyata atau real bahkan bohong dan pembohongan sistemik-struktural, sebelum dia dapat membuktikannya sendiri. Sekali lagi sebelum membuktikannya sendiri dengan prinsip 5W+1H.
3. Everything has its wrongness
Dan oleh sebab itu, segala sesuatunya memiliki kecenderungan untuk salah yang akan menjadi objek analisisnya. Baik struktur, konsep, aplikasi, bahkan filosofinya.
Inovator
Anda masuk dalam nominasi ini jika Anda memiliki criteria:
1) Otak-atik
Kemampuan utamanya adalah modifikasi hal-hal yang sudah “baik” menurut orang. Baginya kreativitas itu tanpa batas, sehingga dia berkeyakinan: “di mana ada otak kreatif, di sana pasti ada IDE”.
2) Suka hal-hal baru
Orisinalitas baginya adalah sebuah masterpiece dalam melakukan sesuatu dan itu menuntut kebaruan dalam hampir berbagai hal mulai dari menyapa temen-temennya, mengerjakan sesuatu hal sepele, sampai hal-hal yang berat-berat. Dan biasanya orang ini memiliki keterampilan khusus yang tidak dimilki oleh temen-temennya yang lain.
3) Selalu ada ide untuk berkreasi
Kerjaannya setiap hari menjadi Pembaharu. Tiada hari tanpa memperbaharui segalanya.
Pemikir/ konseptor
Anda masuk dalam nominasi ini jika Anda memiliki criteria:
1) Suka hal-hal dasar
Baginya segala sesuatu di dunia ini belum selesai untuk dipikirkan, bahkan masalah yang sudah diputuskan oleh yang nama Tuhan. Everything is questionable, segala sesuatunya masih bisa dan perlu untuk dipertanyakan: 5 W plus 1H. Rumus tersebut perlu untuk dijadikan sebagai pengawal segala sesuatunya.
2) Demen sama yang kompleks
Bagi kehidupan ini terlalu kompleks untuk disederhanakan dalam sebuah perkataan simple. Maka untuk itu dia membiasakan dirinya menjadi seorang pemikir secara sistematis dan terstruktur dengan baik. Perkataannya selalu tertata dengan rapi, tanpa mendahulukan emosi sama sekali.
3) Mempertanyakan segalanya sampai ke ujung paling dasar.
Segalanya belum selesai sebelum mencapai titik paling akhir, dasar paradigmatic yang paling kokoh dan teruji secara rasioal-empiris.
Sang Pelaksana
Anda masuk dalam nominasi ini jika Anda memiliki criteria:
1) Mahasiswa yang penuh dengan slogan “YES” dan “AYO kerjakan!!!”
Orang ini selalu berpegang pada falsafah bahwa segalanya tidak bisa diselesaikan hanya dengan otak. Semua butuh tindakannya. Dan dia biasanya menjadi orang pertama yang bertindak. Dia Manusia-Bertindak.
2) Manutan
Baginya cukup orang lain yang berpikir, dan dia yang akan melakukannya dengan sepenuh hati.
3) Pekerja keras
So, jelas saja dia orang pekerja keras. Dalam berbagai acara dia biasanya menjadi trand setter dalam pekerjaan, atau one man show-nya dia.

The right man for the right skill and hobby in place

Sebuah Lembaga tidak akan menjadi seimbang dan berjalan dengan baik karena hanya adanya system perencanaan yang matang (manajemen strategis Lembaga) tapi juga karena adanya orang-orang yang sesuai dengan pekerjaan yang diamanatkan oleh system dan konsep dibawah naungan visi-misi Lembaga Pers Mahasiswa. Lembaga pers Mahasiswa akan berjalan jika ada orang-orang yang cukup mampu untuk melaksanakanya: orang yang bisa menulis, orang yang bisa ngelayout, orang yang bisa mengelola manajerial keredaksian, orang bisa mengurusi percetakan, orang yang bisa motret, orang yang bisa membuat ilustrasi dan sebagainya. Inilah kompleksitas sebuah lembaga penerbitan persma.
Persma bukan sebuah komunitas hobi yang homogen, yang focus pada satu bidang tertentu saja, seperti pencak silat, paduan suara. Dan oleh kareena itu ia membutuhkan seorang manejer yang handal untuk menegasikan berbagai konflik yang disebabkan oleh berbagai perbedaan. Seorang menajer akan memposiskan orang yang tepat yang sesuai dengan skill dan interestnya pada jabatan yang tepat.
Terakhir, sebenarnya dalam organisasi ini, orang-orang dengan criteria tersebut lebih banyak hanya terdapat pada beberapa orang saja: dia yang berpikir, berinnovasi, sampai dia yang mngerjakannya. Hal ini terjadi baik oleh ketidaktahuan tentang orgasasi, atau bisa juga karena keadaan yang memaksa dia untuk semua itu. Alias tidak ada orang lagi selain dia sendiri. Haruskah ini terjadi? So, siapa Anda?
Solo, Selasa, 1 January 2008, pukul 12.00 WIB © Fz, jëlêk.

poetry

Filed under: tulisan harian — lpmkentingan @ 12:01 pm

BERPUTAR (segalanya teruji)
romansa hidup tak pernah berhenti
meski gulungan angin menjerat begitu hebat
walau pohon hijau luluh lantah sebab terbang
atau bukit-bukit kecil terpotong sedikit demi dikit
roda tak mungkin macet di tengah jalan

hari lain baru berebut
berganti waktu tanpa lelah
bersiap menjadi si pembaharu
terkadang terpental oleh nafas sendiri

kotak jarum selalu saja bergulir
bermenit serta detakan terus
saja menderu laju
tiada tengokan dan tanpa
mengenal apa itu maaf

wah, lama terpekur tajam juga
tertuju pada satu arah
maju terus!

Padahal babak belur
Permukaannya
Ah, peduli amat!

Bola selalu saja menggelinding
20feb06

January 2, 2008

SCRIPTA MANENT

Filed under: tulisan harian — lpmkentingan @ 8:50 am

SCRIPTA MANENT:

Dari Catatan Ke Gerakan, Pembelajaran, Sampai Pencerahan

“Kata Adalah Senjata”, Sub Commandante Marcos

Adalah sangat menarik dan barang kali akan sedikit kontroversial bagi sebagian orang Indonesia apabila kita menilik perkataan pemikir Prancis, Jean Paul Sartre: “Telah ku temukan agamaku; tak ada yang lebih penting dari buku! Aku memandang perpustakaan sebagai tempat ibadahku!”. Pengakuan tersebut menyiratkan secara eksplisit betapa sebuah catatan, dalam bentuk buku sampai catatan harian baik manual atau elektrik, akan menjadi sangat penting.

Sartre barang kali insaf betapa pentingnnya sebuah buku. Buku nilainya sama besar dan pentingnya dengan agama itu sendiri. Namun maksudnya, saya kira, adalah sebuah pembacaan atas berbagai hal, dulu, sekarang, dan yang akan datang. Semua ini memang tertera dalam berbagai kitab suci agama-agama manusia.

Dengan berbagai catatan itu manusia bisa meringkas-melipat berbagai fiksasi, keterbatasan-keterbatasan, yang diakibatkan oleh ingatan yang lemah-terbatas, waktu, sampai ruang. Buku membuat kesalahan yang pernah terjadi tidak usah lagi diulangi oleh manusia pembaca. Dalam pembacaan (ulang)-nya terhadap berbagai hal, ia telah bergerak pada penyelamatan diri, kolektif, bahkan sebuah dunia. Inilah inti dari berbagai agama, saya kira. Sebuah penyelamatan terhadap hakekat kemanusiaan Manusia.

Namun untuk sampai ke sana adalah sebuah keniscayaan bagi manusia untuk mulai menulis sambil membaca: sebuah ibadah pertama dalam kehidupan manusia modern dan klasik. Keduanya harus menjadi sebuah kebudayaan yang mengakar dalam tradisi, mulai dari diri pribadi, tenntunya. Inilah yang seharusnya menjadi inti sebuah gerakan kemanusiaan (termasuk gerakan mahasiswa!).

Dan gerakan ini akan menjadi lengkap jika ditambah kata pemebelajaran: Gerakan Pembelajaran. Sebuah gerakan yang mengandaikan bahwa manusia adalah entitas-yang-menjadi-sempurna, dengan terus menerus belajar. Untuk itu ia membutuhkan sebuah alat untuk berevaluasi: tulisan, baik dari diri sendiri atau orang lain.

Pada tahap pembelajaran ini, manusia akan terus bergulat dengan berbagai permasalahan dari yang sepele sampai kompleks-filosofis. Dua-duanya memiliki ruang tersendiri. Manusia, juga pada tahapan ini, akan terus bergelisah, resah, galau, atas pelbagai ketimpangan, ketidakadilan, keculasan, kegilaan, dan sebagainya. Semua ini akan menjadi proses kreatifnya dalam belajar, seperti halnya Gie, Wahib, Frank sampai yang terbaru anak-anak SMA mbeling di Amerika, para Freedom Writers.

Dan sebagai produk terakhir sekaligus tujuannya adalah pencerahan-penyelamatan atas berbagai permasalahan yang menimpa diri kita atau, kalau bisa, dunia tempat kita menginjakkan kaki. Pertanyaannya kemudian adalah beranikah kita membuat catatan-catatan, meski kecil-kecilan? Permasalahannya adalah bukan kita tidak bisa, tapi sering kali kita tidak menyadari betapa pentingnya catatan tersebut. Sekali lagi beranikah dan maukah kita?.Saya tantang Anda untuk menulis!

Terakhir, “Siapa yang tidak menulis akan dilupakan oleh sejarah!”, kata sastrawan kita, Pramoedya Ananta Toer. Scripta manent: yang tertulis akan abadi, sebuah pepatah latin.

Solo, Rabu, 2 January 2008. pukul 15.45 WIB © Fauzi, jélèk.

WANITA

Filed under: tulisan harian — lpmkentingan @ 8:00 am

WANITA

 

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki
yang bertanya pada ibunya. “Ibu, mengapa
Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab
aku wanita”. “Aku tak mengerti” kata si
anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan
memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak
akan pernah mengerti….”

Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya.
“Ayah, mengapa Ibu menangis?, Ibu
menangis tanpa sebab yang jelas”. sang
ayah menjawab, “Semua wanita memang
sering menangis tanpa alasan”. Hanya itu
jawaban yang bisa diberikan ayahnya.

Sampai kemudian si anak itu tumbuh
menjadi remaja, ia tetap bertanya-tanya,
mengapa wanita menangis. Hingga pada
suatu malam, ia bermimpi dan bertanya
kepada Tuhan, “Ya Allah, mengapa wanita
mudah sekali menangis?”

Dalam mimpinya ia merasa seolah Tuhan
menjawab, “Saat Kuciptakan wanita, Aku
membuatnya menjadi sangat utama.
Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan
seluruh beban dunia dan isinya, walaupun
juga bahu itu harus cukup nyaman dan
lembut untuk menahan kepala bayi yang
sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat
melahirkan dan mengeluarkan bayi dari
rahimnya, walau kerap berulangkali ia
menerima cerca dari anaknya itu.
Kuberikan keperkasaan yang akan
membuatnya tetap bertahan, pantang
menyerah saat semua orang sudah putus asa.

Kepada wanita, Kuberikan kesabaran untuk
merawat keluarganya walau letih, walau
sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan
kasih sayang untuk mencintai semua
anaknya dalam kondisi dan situasi
apapun. Walau acapkali anak-anaknya itu
melukai perasaan dan hatinya. Perasaan
ini pula yang akan memberikan kehangatan
pada bayi-bayi yang mengantuk menahan
lelap. Sentuhan inilah yang akan
memberikan kenyamanan saat didekap
dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk
membimbing suaminya melalui masa-masa
sulit dan menjadi pelindung baginya.
Sebab bukannya tulang rusuk yang
melindungi setiap hati dan jantung agar
tak terkoyak.

Kuberikan kepadanya kebijaksanaan dan
kemampuan untuk memberikan pengertian
dan menyadarkan bahwa suami yang baik
adalah yang tak pernah melukai istrinya.
Walau seringkali pula kebijaksanaan itu
akan menguji setiap kesetiaan yang
diberikan kepada suami agar tetap
berdiri sejajar, saling melengkapi dan
saling menyayangi.

Dan akhirnya Kuberikan ia air mata agar
dapat mencurahkan perasaannya. Inilah
yang khusus Kuberikan kepada wanita,
agar dapat digunakan kapan pun ia
inginkan. Hanya inilah kelemahan yang
dimiliki wanita, walaupun sebenarnya air
mata ini adalah air mata kehidupan”.

 

Penulis Mblink…

esei-esei

Filed under: tulisan harian — lpmkentingan @ 6:43 am

Adventus dan Tuhan yang Tak (Pernah) Selesai

TRISNO S SUTANTO

“Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tetapi bukan iman kepada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran.” Bisa juga ditambahkan: Tuhan yang tak (pernah) selesai.
• Untuk GM, dengan hormat

Berhubung judul esai ini bisa dianggap mengada-ada, atau bahkan rentan dituduh sirik, maka biarlah ditegaskan dari awal bahwa judul esai ini, seperti juga perspektif yang hendak dikembangkan di sini, berutang pada buku baru Goenawan Mohamad, sebuah kumpulan 99 tatal yang memukau, Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai (Jakarta: KataKita, 2007).

Memang saya tidak akan membahas hal-hal lain yang juga tidak selesai dari berbagai tatal yang berserakan dalam buku itu, tetapi “hanya” menyinggung soal Tuhan yang, bagi saya (dan saya yakin bagi GM juga), suatu perkara yang tak (pernah) selesai. Saya berutang padanya karena esai ini juga ditulis, sama seperti buku itu, “di masa yang seperti kita alami sekarang, ketika Tuhan tak bisa ditolak dan agama bertambah penting dalam hidup orang banyak, memberi kekuatan, menerangi jalan, tetapi juga membingungkan dan menakutkan”.

Saya yakin GM tidak mengada-ada. Hari-hari ini nama Tuhan diserukan dan dipanggil pada setiap titik dalam perjalanan waktu hampir tanpa jeda. Dan “agama”—karena perkara Tuhan, paling tidak di negeri ini, hampir tak (pernah) dapat dilepaskan darinya—serba hadir (omnipresent) dalam setiap ruang kehidupan, dari yang paling intim personal sampai pada urusan publik. Agama telah menjadi bahasa, atau bahkan satu-satunya bahasa yang memberi gramatika dan kosakata untuk menangkap, merumuskan, dan menanggapi perkara-perkara hidup sehari-hari. Saya pernah menengarai (Bentara, 1 April 2006) bahwa keserbahadiran agama menjadi bermasalah karena wajah ganda keterbelahan akut yang dewasa ini begitu kuat melanda pandangan keagamaan kita: pada satu sisi, bahasa itu tidak pernah melalui kritik-dakhil yang sangat dibutuhkan; dan, pada sisi lain, bahasa itu dicangkokkan tanpa perspektif sosiologis.

Lewat ke-99 tatalnya GM seperti mencari cara baru untuk membicarakan Tuhan—dan agama—yang, mungkin, dapat meretas jalan keluar dari perangkap wajah ganda krisis itu, sembari mengakui bahwa setiap upaya membicarakan Tuhan berarti memasuki pembicaraan yang tak (pernah) selesai. Esai ini mau mengikuti pergulatan GM dalam mencari kosakata dan cara-cara baru dalam membicarakan Tuhan. Saya kira GM adalah salah satu dari sedikit orang di negara ini yang mau bergumul dengan persoalan pelik tentang keterbatasan bahasa untuk mengungkapkan sesuatu yang, pada dasarnya, tak terpermanai, tidak dapat dikatakan, atau dikonsepkan.

Keterbatasan dan keniscayaan bahasa

Persis pada titik itu GM menyentuh persoalan inti dari setiap proyek teologi yang berambisi mau membicarakan Tuhan, membuat logos tentang theos—sebuah proyek yang, sudah dari sejak awal mulanya, memang problematis. Saya teringat pada anekdot yang diceritakan Dorothee Sšlle, perempuan teolog dari Jerman saat mengunjungi Martin Buber. Ketika filsuf Yahudi itu bertanya apa profesinya, Sšlle menjawab singkat: teolog. Buber memandanginya, lalu berkomentar pendek, “Bagaimana mungkin membicarakan yang tak dapat dibicarakan?”

Bagi Buber, orang yang besar dalam tradisi Yudaisme yang bahkan melarang menyebut nama YHWH dalam ibadah mereka di sinagoga, ambisi teologi untuk membuat logos tentang theos sungguh muskil. Upaya seperti itu dengan mudah terjebak menjadi—untuk menyitir pemikir kontemporer dari Perancis, Jean-Luc Marion, yang sering dikutip GM—”berhala konsep” yang kerap kali justru “telah menggantikan Tuhan-itu-sendiri” (hlm 157). Akan tetapi, pada saat bersamaan orang juga harus menyadari bahwa bahasa yang terbatas dan “selamanya terlibat dalam kemusrikan” itu juga dibutuhkan untuk membahasakan Tuhan, walau “Di depan Ilahi, Yang Maha Tak-Tersamai, lidah tak bisa bertingkah” (hlm 54).

Posisi yang serba-taksa ini, yakni kebutuhan yang niscaya akan bahasa tetapi sekaligus kesadaran akan keterbatasannya, telah menjadi ruang hermeneutis kontemporer untuk membicarakan pengalaman religius yang selalu memikat, tetapi menakutkan. Agaknya baru pada masa sekarang inilah kesadaran akan keterbatasan bahasa justru menjadi bahasa baru dalam mengungkapkan Yang Maha Tak-Tersamai. Kita harus menelisik soal ini lebih dekat.

Memang benar, kesadaran akan keterbatasan bahasa sudah sejak lama disuarakan oleh para mistikus besar. Bahkan, dalam Buddhisme Zen kesadaran ini sering diungkapkan dengan cara yang ekstrem. Kasus Shanhui, salah seorang master Zen yang paling luar biasa dan dijuluki sebagai Bodhisattva, bisa disebut contoh paradigmatis. Suatu kali dikisahkan Kaisar Wu dari Dinasti Liang (502-549) meminta Shanhui membabarkan Sutra Intan. Sang master datang, naik podium yang telah disediakan, lalu memukul meja dan pergi. Sang Kaisar terkejut dan bertanya apa artinya. “Tidakkah Paduka memahami?” kata Shanhui. “Saya telah selesai memberi ceramah…”.

Boleh jadi tindakan eksentrik para guru Zen seperti Shanhui itulah yang membuat David J Kalupahana menggolongkan tradisi kerohanian Zen sebagai “tradisi tanpa suara” (the voiceless tradition). Soalnya, para guru Zen sangat menyadari betapa terbatas kata-kata untuk mengungkapkan kebuddhaan, satori, kebenaran, atau bahkan Zen itu sendiri. Metafora yang sering dipakai dalam Zen untuk melihat bahasa adalah seperti jari yang menunjuk bulan. Bukan jari, atau bahasa yang penting, tetapi bulan itu sendiri. Namun, pengalaman keagamaan kerap memperlihatkan bahwa orang sering sibuk berdebat atau bahkan bertempur sampai berdarah-darah justru tentang jari yang menunjuk, rumusan-rumusan dogmatis yang ada, ritus atau aturan hukum, ketimbang mencari pengalaman religius yang otentik, yakni perasaan akan kehadiran Tuhan yang selalu, kata GM, “luput dari alfabet” karena alfabet, pada akhirnya, hanyalah “sebuah organisasi, urutan yang hanya dihafal dan tak perlu dihayati” (hlm 31).

Zen memang contoh yang ekstrem tentang kesadaran akan keterbatasan kata-kata dalam menangkap dan membahasakan Realitas paling ultim yang kita sebut “Tuhan”. Namun, kita juga menyadari bahwa, betapa pun terbatasnya kemampuan kata-kata, pengalaman religius yang otentik tetap butuh dibahasakan. Tanpa pembahasaan itu, pengalaman religius—atau pengalaman apa pun!—hanya akan menjadi momen peristiwa sesaat, sebelum akhirnya lenyap dalam kesunyian. Atau, yang juga sering terjadi, pengalaman itu hanya menjadi milik segelintir orang “terpilih” dan tidak dapat dibagikan.

Sebagai seorang penyair liris, GM sangat menyadari ketaksaan ini. Momen-momen puitis selalu tidak pernah dapat direngkuh sepenuhnya oleh kata-kata. Akan tetapi, pada sisi lainnya, kata-kata, terutama dalam puisi, selalu juga menyimpan ruang-ruang di mana enigma memperoleh suakanya, yang membuat setiap konstruksi tentang realitas jadi tidak pernah utuh, komplet, atau final, tetapi selalu terbuka bagi misteri yang melangkaui bahasa. Seperti Boris Pasternak ketika mendefinisikan puisi dalam empat larik padat yang dikutip GM (hlm 55):

Siul yang jadi matang di saat sekejap

Kertak suara es di angin kedap

Malam yang mengubah hijau jadi beku

Duel suara bulbul dalam lagu

Setiap larik adalah momen peristiwa yang sekejap muncul untuk kemudian hilang. Namun, sang penyair menyadari betapa tak ternilai momen-momen itu sehingga butuh dibahasakan, betapa pun terbatasnya, agar dengan itu dapat dibagikan dan disyukuri. Apa yang dilakukan Pasternak hanyalah “membikin abadi yang kelak retak”, seperti judul tinjauan A Teeuw yang memesona tentang syair-syair GM.

Saya kira tugas seorang teolog pada masa sekarang, pascakritik Kant, kegilaan Nietzsche, dan die Kehre Heidegger, mirip dengan tugas para penyair: dengan keterbatasan kata-kata mau mengabadikan yang kelak retak itu! Bagian berikut mau mengelaborasinya.

Menantikan Sang Mesias

Kritik Kantian yang mencerminkan ghirah Pencerahan telah menjadikan cara bicara metafisik tentang Tuhan menjadi tidak mungkin karena harus tunduk pada batas-batas akal budi semata. Di awal abad lalu Nietzsche mengabarkan kematian Tuhan metafisik sembari mengajak kita “berteologi dengan palu”. Dan, Heidegger mengumumkan berakhirnya onto-teologi, lalu mengganti bahasa diskursif filsafat menjadi puisi.

Masing-masing raksasa pemikiran itu telah mendorong proyek teologi sampai pada batas-batas akhir daya ucapnya. Lewat mereka kita menyadari bahwa ambisi teologi untuk membuat logos tentang theos adalah sebentuk kemustahilan, atau akan menemui jalan buntu (aporia) jika memang mau dengan jujur dijalani. Akan tetapi, kesadaran akan aporia itu justru menjadi retakan di mana Yang Maha Tak-Tersamai menyingkapkan Wajah-Nya. Momen tersebut—”kejadian” atau l’vnement-nya Alain Badiou yang berkali-kali disebut GM—tidak pernah dapat ditebak atau direncanakan, tetapi selalu “mengguncang dan mengubah keadaan yang berlaku, seakan-akan dari nihil” (hlm 39).

Dalam l’vnement yang dirujuk Badiou, waktu memasuki matra dan memiliki kualitas yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Di situ orang tidak lagi berbicara chronos, waktu sehari-hari yang dapat diukur dan digunakan, tetapi memasuki matra kairos, kejadian yang tiba secara mendadak dan penuh misteri. Ini seperti kedatangan sang Mesias dalam cerita aneh Maurice Blanchot. Menurut Blanchot, mari kita andaikan sang Mesias, dengan menyamar, datang di pintu gerbang Roma, tinggal bersama kaum gelandangan dan penderita lepra. Namun, walau orang mengenalinya, mereka akan tetap bertanya pada Sang Mesias, “Kapan kau akan datang?” sebab bukan kedatangan itu sendiri yang menjadi pokok, tetapi justru penantian (adventus) yang penuh harapan.

Cerita Blanchot, yang kerap didiskusikan Derrida maupun Levinas, mau menggarisbawahi aspek yang selama ini sering terlupakan dalam kesibukan teologi: bahwa Sang Misteri lebih tepat diungkapkan sebagai janji ketimbang pengada (being). Blanchot seperti melukiskan apa yang dirayakan selama minggu-minggu advent dalam liturgi gerejawi: bukan hanya penantian akan Natal, kelahiran Yesus yang “menandai Yang Suci masuk merasuk ke dalam hidup sehari-hari dan Yang Kekal menempuh laku temporal” (hlm 120), tetapi sekaligus juga pengharapan akan parousia, saat di mana—dalam ungkapan eskatologis Paulus—”Allah menjadi semua di dalam semua”. Maka, bahasa Sang Misteri bukanlah bahasa kepastian, peraturan, ritus, hukum, atau rumusan dogmatis, melainkan bahasa harapan yang selalu terbuka bagi masa depan yang tidak pernah dapat diduga, bagi l’vnement.

Dengan kata lain, kesadaran akan keterbatasan daya ucap teologi untuk merumuskan Yang Maha Tak-Terpermanai justru membuka retakan yang memungkinkan bahasa harapan kembali menyapa kita. Bagi GM, dalam tulisannya yang lain beberapa waktu lalu (Bentara, 6 Oktober 2007), lebih baik orang menerima keterbatasan bahasa sebagai sesuatu yang tak terelakkan, dan belajar untuk “hidup dengan janji: kelak ada Makna Terang yang akan datang—betapapun mustahil. Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tetapi bukan iman kepada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran.” Bisa juga ditambahkan: Tuhan yang tak (pernah) selesai.

Saya yakin itulah kosakata baru yang sangat kita butuhkan untuk membahasakan kembali pengalaman religius tentang kehadiran Tuhan yang selalu “luput dari alfabet” itu. “Tiap masa,” tulis GM, “selalu ada orang yang mengembara dan membuka kembali pintu ke gurun pasir tempat Musa—yang tak diperkenankan melihat wajah Tuhan—mencoba menebak kehendak-Nya terus-menerus. Di sana, tanda-tanda tetap merupakan tanda-tanda, bukan kebenaran itu sendiri. Di sana banyak hal belum selesai” (hlm 41). Kumpulan ke-99 tatal GM adalah semacam noktah-noktah dari pengembaraannya ke gurun pasir, locus classicus dalam cerita Alkitab bagi l’vnement, saat di mana Sang Misteri menyingkapkan Wajah-Nya.

And the rest is silence, kata Hamlet.

TRISNO S SUTANTO Direktur Eksekutif MADIA (Masyarakat Dialog Antar Agama), Jakarta

Blog at WordPress.com.