LPM KENTINGAN UNS SOLO

January 2, 2008

SCRIPTA MANENT

Filed under: tulisan harian — lpmkentingan @ 8:50 am

SCRIPTA MANENT:

Dari Catatan Ke Gerakan, Pembelajaran, Sampai Pencerahan

“Kata Adalah Senjata”, Sub Commandante Marcos

Adalah sangat menarik dan barang kali akan sedikit kontroversial bagi sebagian orang Indonesia apabila kita menilik perkataan pemikir Prancis, Jean Paul Sartre: “Telah ku temukan agamaku; tak ada yang lebih penting dari buku! Aku memandang perpustakaan sebagai tempat ibadahku!”. Pengakuan tersebut menyiratkan secara eksplisit betapa sebuah catatan, dalam bentuk buku sampai catatan harian baik manual atau elektrik, akan menjadi sangat penting.

Sartre barang kali insaf betapa pentingnnya sebuah buku. Buku nilainya sama besar dan pentingnya dengan agama itu sendiri. Namun maksudnya, saya kira, adalah sebuah pembacaan atas berbagai hal, dulu, sekarang, dan yang akan datang. Semua ini memang tertera dalam berbagai kitab suci agama-agama manusia.

Dengan berbagai catatan itu manusia bisa meringkas-melipat berbagai fiksasi, keterbatasan-keterbatasan, yang diakibatkan oleh ingatan yang lemah-terbatas, waktu, sampai ruang. Buku membuat kesalahan yang pernah terjadi tidak usah lagi diulangi oleh manusia pembaca. Dalam pembacaan (ulang)-nya terhadap berbagai hal, ia telah bergerak pada penyelamatan diri, kolektif, bahkan sebuah dunia. Inilah inti dari berbagai agama, saya kira. Sebuah penyelamatan terhadap hakekat kemanusiaan Manusia.

Namun untuk sampai ke sana adalah sebuah keniscayaan bagi manusia untuk mulai menulis sambil membaca: sebuah ibadah pertama dalam kehidupan manusia modern dan klasik. Keduanya harus menjadi sebuah kebudayaan yang mengakar dalam tradisi, mulai dari diri pribadi, tenntunya. Inilah yang seharusnya menjadi inti sebuah gerakan kemanusiaan (termasuk gerakan mahasiswa!).

Dan gerakan ini akan menjadi lengkap jika ditambah kata pemebelajaran: Gerakan Pembelajaran. Sebuah gerakan yang mengandaikan bahwa manusia adalah entitas-yang-menjadi-sempurna, dengan terus menerus belajar. Untuk itu ia membutuhkan sebuah alat untuk berevaluasi: tulisan, baik dari diri sendiri atau orang lain.

Pada tahap pembelajaran ini, manusia akan terus bergulat dengan berbagai permasalahan dari yang sepele sampai kompleks-filosofis. Dua-duanya memiliki ruang tersendiri. Manusia, juga pada tahapan ini, akan terus bergelisah, resah, galau, atas pelbagai ketimpangan, ketidakadilan, keculasan, kegilaan, dan sebagainya. Semua ini akan menjadi proses kreatifnya dalam belajar, seperti halnya Gie, Wahib, Frank sampai yang terbaru anak-anak SMA mbeling di Amerika, para Freedom Writers.

Dan sebagai produk terakhir sekaligus tujuannya adalah pencerahan-penyelamatan atas berbagai permasalahan yang menimpa diri kita atau, kalau bisa, dunia tempat kita menginjakkan kaki. Pertanyaannya kemudian adalah beranikah kita membuat catatan-catatan, meski kecil-kecilan? Permasalahannya adalah bukan kita tidak bisa, tapi sering kali kita tidak menyadari betapa pentingnya catatan tersebut. Sekali lagi beranikah dan maukah kita?.Saya tantang Anda untuk menulis!

Terakhir, “Siapa yang tidak menulis akan dilupakan oleh sejarah!”, kata sastrawan kita, Pramoedya Ananta Toer. Scripta manent: yang tertulis akan abadi, sebuah pepatah latin.

Solo, Rabu, 2 January 2008. pukul 15.45 WIB © Fauzi, jélèk.

3 Comments »

  1. OKE JUGAA BROOOOOOOOO…UHUYYY..

    Comment by lpmkentingan — January 2, 2008 @ 8:54 am | Reply

  2. kereen..brooo….

    Comment by black — January 3, 2008 @ 6:08 am | Reply

  3. memperkenalkan bahasa indonesia ke dunia lewat blog: http://indonesianlessons.blogspot.com/

    Comment by Indonesia — February 29, 2008 @ 7:30 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Blog at WordPress.com.