LPM KENTINGAN UNS SOLO

January 8, 2008

Persona Manusia

Filed under: tulisan harian — lpmkentingan @ 12:22 pm

Persona Manusia

“Intinya itu, bagaimana selalu mampu menciptakan ruang.
Kita selalu mampu melihat peluang
tempat kita mampu menjadi diri sendiri”.

(sebuah email balasan dari seorang teman DA, pukul 00.13 WIB,
yang dikutip dari perkatann seorang seniman koreografer terkenal Indonesia asal Solo, Sardono W. Kusomo)

Dari perkataan yang lumayan puitis itu, bisa disimpulkan bahwa yang paling penting dari esensialtas manusia untuk menjadi Manusia adalah ruang, yang kalau tidak ada menciptakan ruang-menjadi. Ini hampir senada dengan apa yang dikatakan oleh sastrawan Inggris Bernard Shaw, “Kebanyakan orang percaya pada keadaan. Tapi saya tidak pernah percaya pada keadaan. Orang yang berhasil di dunia ini adalah orang yang bangkit dan mencari keadaan. Keadaan yang mereka inginkan, dan kalau tidak bertemu, menciptakan keadaan-keadaan tersebut.”
Memang ada perbedaan yang signifikan antara kedua perkatann itu namun keduanya berangkat dari satu pemahaman akan pentingnya sebuah ruang. Manusia, siapapun dia, memang tidak akan pernah lepas dengan sebuah ruang untuk fisiknya. Kendati demikian dia akan terus mencari dan mencari saesuatu yang bisa melebihi sebuah ruang untuk sesuatu yang tidak memerlukan ruang. Ia adalah sebuah imajinasi, buah pikiran, sebuah mimpi, untuk membuat dia benar-benar menjadi Manusia.
Yang mungkin agak dinomorduakan dari perkataan Sardono itu adalah “menjadi diri sendiri”; seperti apa sebenarnya sosok “diri sendiri” dalam manusia. Ini adalah sebuah pertanyaan yang ekstra klasik yang sampai sekarng manusia terus meredefinisikannya, mencari batasan-batasan, mencari lingkup-lingkup untuk dimasukkan. “Manusia yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya” (man ‘arafa nafsahu, ‘arafa Rabbahu), yang dulu sering saya dengar di pondok, dari perkataan para sufi-pemikir Islam, dan terus menerus diwariskan pada generasi berikutnya. Konon katannya, itu adalah perkataan Nabi Muhammad. Dan beberapa tahun ini, perkataan itu aku temukan juga dalam buku-buku filsafat Barat klasik sebelum Aristoles dan Sokrates.
Hal ini menunjukkan betapa yang namanya Manusia adalah sebuah entitas super kompleks, yang oleh karenanya ia sama sukarnya dengan Tuhan untuk didefinisikan oleh ciptaan-Nya yang paling sempurnya, manusia sendiri. Lalu apa dan siapa Manusia menurut Tuhan dan manusia? Belum terjawab tuntas, setidaknya untuk seorang Fauzi bodoh. Dan tulisan ini juga bukan untuk menjawab pertanyaan besar tersebut. Tulisan ini Cuma sekadar untuk mendiskribsikannya.
Manusia, menurut saya, akan lumayan menjadi Manusia pada saat dan ruang dimana bagian dari dirinya sedang terbagi dengan manusia yang lain. Ia menjadi manusia yang tidak utuh untuk dirinya sendiri, dan menjadi utuh Manusia untuk dan dengan orang lain. Saat-saat itu mungkin tatkala ia sedang ‘menyatu’ dengan manusia yang lain. Katakanlah dalam ikatan “pacaran-cinta”, pernikahan, atau bisa juga terikat dalam sebuah rasa kemanusiaan (nilai-nilai moral/agama). Setidaknya manusia memiliki perasaan utuh sebagai Manusia pada saat-saat itu.
Contoh klasik sekali akan hal ini adalah penciptaan Hawa oleh Tuhan atas “permintaan” Adam (atau bisa juga menggunakan kata “untuk Adam”). Di sebuah surga yang serba tersedia apapun secara otomatis, adalah sebuah keganjilan akan sosok manusia, Adam, yang masih menginginkan seorang yang “lain”, yang berbeda dalam beberapa hal dengan dia. Adam seperti merasa ada sesuatu yang mengurangi kediriannya, yang mereduksi kemanusiaanya walau Iblis merasa iri atasnya, yang Tuhan dengan tugas memuliakannya. Inilah sebuah bukti betapa manusia memang tidak untuk dengan kelengkapan dan kesempurnaan dirinya, ia membutuhkan sesuatu yang lain.
Yang berikutnya adalah sebuah ikatan religius yang sering dikatakan pernikahan. Dalam ritual ini, proses “pacaran-percintaan” mendapatkan pengesahan secara agama dan legal. Tentu adanya pengesahan tersebut tidak jauh dari kebutuhan akan penyempurnaan kedirian manusia. Bahkan yang lebih ekstrem lagi, untuk memenuhi hal itu adalah mereka merasa perlu untuk melegalkan pernikahan antar kaum pria dengan pria, pun kaum wanita dengan kaum wanita. Entah hal itu dibenarkan oleh agama atau hukum, hal tersebut cukup membuktikan betapa menusia membutuh yang lain untuk kediriannya untuk menjadi Manusia.
Dan terakhir adalah saat manusia berada dalam ruang nilai-nilai moral, agama, atau kemanusiaan. Manusia merasa dirinya Manusia yang utuh pada saat nilai-nilai moral, agama, kemanusiaannya, memerlukan sebuah ruang atau tempat untuk mengaktualisasikan, untuk mengada yang akan menyempurnakannya menjadi Manusia. Contoh untuk hal ini hampir setiap hari terjadi dalam kehidupan kita. Kita merasa bukan manusia pada saat kita tidak menolong orang yang sedang kesusahan dan kita mampu untuk menolongnya. Atau, kita akan menuduh orang lain sebagai “binatang” pada saat orang lain tersebut kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.
Orang yang cukup banyak persedian nilai-nilai tersebut dan bisa mengaktulisasikannya dalam tindakan nyata, maka dia akan merasa bahwa dia sebagai Manusia. Bahkan yang melebihi dari yang biasa dilakukan oleh “manusia”biasa akan dipanggil seorang “nabi”. Dan memang seroang nabi adalah seorang yang memiliki seluruh kapasitas kemanusiaan yang utuh. Sekali lagi hal tersebut di atas membuktikan bahwa kemanusiaanya Manusia terikat oleh manusia yang lain.
Tiga contoh tersebut menyimpulkan bahwa ruang-ruang dalam kehidupan manusia untuk menjadi Manusia memang bukan sesuatu yang konkret bahkan cenderung non-konkret, abstrak, yang mnyentuh sisi-sisi manusia yang paling susah untuk didefinisikan. Dan sepertinya sebuah pendefinisian akan mereduksi dan mengurangi sisi-sisi Manusia itu sendiri. Oelh sebab itu, sebuah perasaan tidak akan pernah terdefinisikan oleh berjuta kata-kata untuk membatasinya. Ia seluas dan sesulit manusia itu sendiri. Definisi tidak bisa menyentuh, walau Cuma sisi luarnya saja.
Maka sungguh sebuah keharusan untuk bersyukur bagi Manusia yang berani merelakan kediriannya sendiri untuk menjadi Manusia. Dia tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sang Budhis yang merelakan bagian dirinya untuk orang lain.
Maka bersyukurlah Manusia yang memiliki Cinta-Kasih, dan jagalah ia sebagai sebuh cinta yang ber-”manusia”, bukan yang hewani. Dan bersyukurlah bagi mereka yang mengaktualisasikan nilai kemanusiaanya untuk manusia.
Karena: betapa sedikitnya semua itu ditemukan oleh Manusia, meski semua itu ada padanya! Dan bagi Anda yang bersyukur, selamat Anda berhak merayakan Tahun Baru.

Solo, Senin, 31 Desember 2007, pukul 18.30 WIB.©Fauzi, jëlêk.

New Year 2008

Filed under: Uncategorized — lpmkentingan @ 12:18 pm

Angka 00.00

Beberapa hari yang lalu sebuah ritual tahunan dilakukan oleh manusia yang dicap sebagai modern. Mereka berkumpul di alun-alun kota (city park) hampir di seluruh dunia. Entah apa yang mereka takjubkan dari serangkaian angka 00.00. Sebuah angka kosoooooong yang Cuma dikenal oleh manusia modern dari beberapa abad yang lalu.

Pada saat sang waktu menunjukkan angka 00.00 sebuah keheningan mengiringi angka itu sesaat sebelum ngepas menunjukkan angka itu. Dan seperti tersengat aliran listrik yang sangat kuat, mereka berteriak, bersorak bersama. Entah karena apa, apakah karena angka itu dengan embel-embel sebuah angka tahun, 2008?

Tidak ada sebuah penjelasan yangrasional atau masuk akal, jika memakai ukuran rasional manusia modern. Yang ada, bagi saya, adalah sebuah kebingunngan yang menjadi-jadi. Bukankah angka itu terjadi setiap malam, saat kita ngorok ditemani bantal sambil membuat beberapa pulau kecil, dan sesekali kita bermimpi? Sungguh angka itu angka yang terlalu biasa untuk diukur, apalagi dengan ukuran uang. Hampir tidak ada nilainya sama sekali! Angka itu tidak berarti kecuali ia mengikuti angka rupiah yang begitu digdaya pada zaman kita.

Dan yang agak aneh lagi adalah saat angka 00.00 mulai beranjak bertambah. Saat itu ada beberapa firework, kembang api, yang seakan menjadi sebuah keniscayaan untuk menikmati angka 00.00 beranjak dan angka satu nongol dibarengi oleh bilangan 2008. Lalu, orang-orang modern bersuka cita, berpelukan bersama pacarnya, melongo, membelalakkan mata, ada sebagian yang berdoa…

Menurut aku saat itu tidak ada bedanya dengan teman-teman sebangsa kita di pelosok Irian Jaya, pedalaman Kalimantan, dan sebagainya,  yang belum begitu mengenal  angka-angka aneh itu. Mereka hampir setiap ada upacara menyalakan api, lalu mereka mengelilinginya sambil bernyanyi, entah dengan tujuan apa…

Saat itu mereka yang di sana, menyembulkan berbagai ucapan, mantra, doa-doa yang kita tidak tahu: ada yang berbunyi hu..hu..hu.., ada juga hula..hula.. hula.., di depan berbagai percikan api sambil mengelilingi menari, dengan tongkat dan sebagainya..

Inilah sebuah ritual persembahan dan penghormatan yang mereka persembahkan buat nenekmoyang mereka yang telah tiada. Ada kesakralan di sana dan rasa takdim. Bukan sebuah ketakutan akan bahaya api, sebagai mana nenek moyang mereka menemukan apai pertama kali. Apalagi sebuah kesia-siaang. Namun manusia modern merayakan sebuah angka dengan api untuk sebuah ketiadaan, dan kesia-siaan. Aneh.

Apa bedanya dengan kembang api yang sering dirayakan dengan bersuka cita, jika dibandingkan dengan api yang digunakan oleh mereka yang berada di pedalaman sana? Hampir tidak ada. Karena intinya itu adalah sebuah api.

 

Perlukah semua itu? Apakah tidak sebaiknya uang jutaan rupiah itu kita belikan sembako untuk saudara-saudara kita yang terkena bencana? Sudah bertahun-tahun kita selalu mengalami “Desember Kelabu”. Sekali pikirkanlah! Ato, memang kita bukan manusia?

About New Comers

Filed under: Uncategorized — lpmkentingan @ 12:14 pm

Hei Anggota Baru,
Emang, KAMU SIAPA?
Jangan negative thinking dulu, tapi negative pun itu perlu. Tapi terima kasih kalau Anda sudah mau bermurah hati untuk berpikir. Dalam sebuah organisasi, terutama media seperti Lembaga Pers Mahasiswa, diperlukan sejumlah orang yang berbeda-beda. Maka dari itu dalam berbagai organisasi terdapat berbagai bidang yang berbeda-beda, bukan hanya untuk membagi pekerjaan tapi lebih dari itu: the right men for the right place (ditambah skill dan hobby). Kalau dalam sebuah UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) memang tidak ada “job” yang sesungguhnya, namun lebih pada “hobi” yang disukai (debatable).
Dalam sebuah lembaga pers, sangat perlu adanya orang-orang yang berbeda baik segi kesukaan, skill, kebiasaan, dan sebagainya. Untuk itu, sangat perlu untuk mengidentifikasi spesifikasi seorang anggota baru. Hal ini dilakukan untuk menentukan orang–orang yang tepat pada waktu tempat dan karakter pekerja yang tepat.
Lalu, siapa dan apa karakter Anda, anggota baru? Berikut beberapa kriteria manusia dalam sebuah organisasi:
Analis
Anda masuk dalam nominasi ini jika Anda memiliki criteria:
1. Kritis
Bagi orang ini segala sesuatu di dunia ini selalu menarik untuk diselidiki dan melihat ke masa depan dari apa yang dia analisis. Dia sering masuk dalam jajaran para futuris seperti Alfin Tofler, pengarang buku Mega Trend (sorri lupa namanya), dan seterusnya. Dia selalu tertarik untuk men-SWOT sebuah acara, Lembaga, bahkan seorang manusia yang menjadi temannya.
2. X= bukan Y
Dia identik dengan homo soviecus atau homo orbacus (orang orde baru yang munafik), yang selalu menyunjung perkataan atau prinsip Pramodya Ananta Toer yang berdalih bahwa segala suatunya itu bisa dirumuskan dengan X= bukan Y. So, apapun yang terjadi pasti memiliki kemungkin bahwa semua itu Cuma sekadar luaran belaka, tidak nyata atau real bahkan bohong dan pembohongan sistemik-struktural, sebelum dia dapat membuktikannya sendiri. Sekali lagi sebelum membuktikannya sendiri dengan prinsip 5W+1H.
3. Everything has its wrongness
Dan oleh sebab itu, segala sesuatunya memiliki kecenderungan untuk salah yang akan menjadi objek analisisnya. Baik struktur, konsep, aplikasi, bahkan filosofinya.
Inovator
Anda masuk dalam nominasi ini jika Anda memiliki criteria:
1) Otak-atik
Kemampuan utamanya adalah modifikasi hal-hal yang sudah “baik” menurut orang. Baginya kreativitas itu tanpa batas, sehingga dia berkeyakinan: “di mana ada otak kreatif, di sana pasti ada IDE”.
2) Suka hal-hal baru
Orisinalitas baginya adalah sebuah masterpiece dalam melakukan sesuatu dan itu menuntut kebaruan dalam hampir berbagai hal mulai dari menyapa temen-temennya, mengerjakan sesuatu hal sepele, sampai hal-hal yang berat-berat. Dan biasanya orang ini memiliki keterampilan khusus yang tidak dimilki oleh temen-temennya yang lain.
3) Selalu ada ide untuk berkreasi
Kerjaannya setiap hari menjadi Pembaharu. Tiada hari tanpa memperbaharui segalanya.
Pemikir/ konseptor
Anda masuk dalam nominasi ini jika Anda memiliki criteria:
1) Suka hal-hal dasar
Baginya segala sesuatu di dunia ini belum selesai untuk dipikirkan, bahkan masalah yang sudah diputuskan oleh yang nama Tuhan. Everything is questionable, segala sesuatunya masih bisa dan perlu untuk dipertanyakan: 5 W plus 1H. Rumus tersebut perlu untuk dijadikan sebagai pengawal segala sesuatunya.
2) Demen sama yang kompleks
Bagi kehidupan ini terlalu kompleks untuk disederhanakan dalam sebuah perkataan simple. Maka untuk itu dia membiasakan dirinya menjadi seorang pemikir secara sistematis dan terstruktur dengan baik. Perkataannya selalu tertata dengan rapi, tanpa mendahulukan emosi sama sekali.
3) Mempertanyakan segalanya sampai ke ujung paling dasar.
Segalanya belum selesai sebelum mencapai titik paling akhir, dasar paradigmatic yang paling kokoh dan teruji secara rasioal-empiris.
Sang Pelaksana
Anda masuk dalam nominasi ini jika Anda memiliki criteria:
1) Mahasiswa yang penuh dengan slogan “YES” dan “AYO kerjakan!!!”
Orang ini selalu berpegang pada falsafah bahwa segalanya tidak bisa diselesaikan hanya dengan otak. Semua butuh tindakannya. Dan dia biasanya menjadi orang pertama yang bertindak. Dia Manusia-Bertindak.
2) Manutan
Baginya cukup orang lain yang berpikir, dan dia yang akan melakukannya dengan sepenuh hati.
3) Pekerja keras
So, jelas saja dia orang pekerja keras. Dalam berbagai acara dia biasanya menjadi trand setter dalam pekerjaan, atau one man show-nya dia.

The right man for the right skill and hobby in place

Sebuah Lembaga tidak akan menjadi seimbang dan berjalan dengan baik karena hanya adanya system perencanaan yang matang (manajemen strategis Lembaga) tapi juga karena adanya orang-orang yang sesuai dengan pekerjaan yang diamanatkan oleh system dan konsep dibawah naungan visi-misi Lembaga Pers Mahasiswa. Lembaga pers Mahasiswa akan berjalan jika ada orang-orang yang cukup mampu untuk melaksanakanya: orang yang bisa menulis, orang yang bisa ngelayout, orang yang bisa mengelola manajerial keredaksian, orang bisa mengurusi percetakan, orang yang bisa motret, orang yang bisa membuat ilustrasi dan sebagainya. Inilah kompleksitas sebuah lembaga penerbitan persma.
Persma bukan sebuah komunitas hobi yang homogen, yang focus pada satu bidang tertentu saja, seperti pencak silat, paduan suara. Dan oleh kareena itu ia membutuhkan seorang manejer yang handal untuk menegasikan berbagai konflik yang disebabkan oleh berbagai perbedaan. Seorang menajer akan memposiskan orang yang tepat yang sesuai dengan skill dan interestnya pada jabatan yang tepat.
Terakhir, sebenarnya dalam organisasi ini, orang-orang dengan criteria tersebut lebih banyak hanya terdapat pada beberapa orang saja: dia yang berpikir, berinnovasi, sampai dia yang mngerjakannya. Hal ini terjadi baik oleh ketidaktahuan tentang orgasasi, atau bisa juga karena keadaan yang memaksa dia untuk semua itu. Alias tidak ada orang lagi selain dia sendiri. Haruskah ini terjadi? So, siapa Anda?
Solo, Selasa, 1 January 2008, pukul 12.00 WIB © Fz, jëlêk.

poetry

Filed under: tulisan harian — lpmkentingan @ 12:01 pm

BERPUTAR (segalanya teruji)
romansa hidup tak pernah berhenti
meski gulungan angin menjerat begitu hebat
walau pohon hijau luluh lantah sebab terbang
atau bukit-bukit kecil terpotong sedikit demi dikit
roda tak mungkin macet di tengah jalan

hari lain baru berebut
berganti waktu tanpa lelah
bersiap menjadi si pembaharu
terkadang terpental oleh nafas sendiri

kotak jarum selalu saja bergulir
bermenit serta detakan terus
saja menderu laju
tiada tengokan dan tanpa
mengenal apa itu maaf

wah, lama terpekur tajam juga
tertuju pada satu arah
maju terus!

Padahal babak belur
Permukaannya
Ah, peduli amat!

Bola selalu saja menggelinding
20feb06

Blog at WordPress.com.