LPM KENTINGAN UNS SOLO

January 8, 2008

New Year 2008

Filed under: Uncategorized — lpmkentingan @ 12:18 pm

Angka 00.00

Beberapa hari yang lalu sebuah ritual tahunan dilakukan oleh manusia yang dicap sebagai modern. Mereka berkumpul di alun-alun kota (city park) hampir di seluruh dunia. Entah apa yang mereka takjubkan dari serangkaian angka 00.00. Sebuah angka kosoooooong yang Cuma dikenal oleh manusia modern dari beberapa abad yang lalu.

Pada saat sang waktu menunjukkan angka 00.00 sebuah keheningan mengiringi angka itu sesaat sebelum ngepas menunjukkan angka itu. Dan seperti tersengat aliran listrik yang sangat kuat, mereka berteriak, bersorak bersama. Entah karena apa, apakah karena angka itu dengan embel-embel sebuah angka tahun, 2008?

Tidak ada sebuah penjelasan yangrasional atau masuk akal, jika memakai ukuran rasional manusia modern. Yang ada, bagi saya, adalah sebuah kebingunngan yang menjadi-jadi. Bukankah angka itu terjadi setiap malam, saat kita ngorok ditemani bantal sambil membuat beberapa pulau kecil, dan sesekali kita bermimpi? Sungguh angka itu angka yang terlalu biasa untuk diukur, apalagi dengan ukuran uang. Hampir tidak ada nilainya sama sekali! Angka itu tidak berarti kecuali ia mengikuti angka rupiah yang begitu digdaya pada zaman kita.

Dan yang agak aneh lagi adalah saat angka 00.00 mulai beranjak bertambah. Saat itu ada beberapa firework, kembang api, yang seakan menjadi sebuah keniscayaan untuk menikmati angka 00.00 beranjak dan angka satu nongol dibarengi oleh bilangan 2008. Lalu, orang-orang modern bersuka cita, berpelukan bersama pacarnya, melongo, membelalakkan mata, ada sebagian yang berdoa…

Menurut aku saat itu tidak ada bedanya dengan teman-teman sebangsa kita di pelosok Irian Jaya, pedalaman Kalimantan, dan sebagainya,  yang belum begitu mengenal  angka-angka aneh itu. Mereka hampir setiap ada upacara menyalakan api, lalu mereka mengelilinginya sambil bernyanyi, entah dengan tujuan apa…

Saat itu mereka yang di sana, menyembulkan berbagai ucapan, mantra, doa-doa yang kita tidak tahu: ada yang berbunyi hu..hu..hu.., ada juga hula..hula.. hula.., di depan berbagai percikan api sambil mengelilingi menari, dengan tongkat dan sebagainya..

Inilah sebuah ritual persembahan dan penghormatan yang mereka persembahkan buat nenekmoyang mereka yang telah tiada. Ada kesakralan di sana dan rasa takdim. Bukan sebuah ketakutan akan bahaya api, sebagai mana nenek moyang mereka menemukan apai pertama kali. Apalagi sebuah kesia-siaang. Namun manusia modern merayakan sebuah angka dengan api untuk sebuah ketiadaan, dan kesia-siaan. Aneh.

Apa bedanya dengan kembang api yang sering dirayakan dengan bersuka cita, jika dibandingkan dengan api yang digunakan oleh mereka yang berada di pedalaman sana? Hampir tidak ada. Karena intinya itu adalah sebuah api.

 

Perlukah semua itu? Apakah tidak sebaiknya uang jutaan rupiah itu kita belikan sembako untuk saudara-saudara kita yang terkena bencana? Sudah bertahun-tahun kita selalu mengalami “Desember Kelabu”. Sekali pikirkanlah! Ato, memang kita bukan manusia?

No Comments Yet »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Blog at WordPress.com.