“5% of the people think, 10% think they think
and the other 85% would rather die than think”
Thomas Alfa Edision
Secara sederhana aktivitas mahasiswa dalam sebuah organisasi bisa dipetakan kedalam tiga blok motivasi: pendidikan, hobi, dan perjuangan[1]. Setiap motivasi membawa bentuk dan corak aktivitas yang berbeda-beda. Pada saat ini sulit mengklasifikasikan mana yang lebih condong pada sebuah organisasi. Dan sebagai konsekuensinya mungkin akan terjadi benturan kepentingan, walau tidak terasa.
Tiga motivasi atau tujuan tersebut yang paling banyak mendapat tempat adalah yang pertama dan kedua: pendidikan dan hobi. Yang ketiga hampir sangat sulit mencarinya pada organ-organ mahasiswa. Di UKM UNS ini bisa dikatakan sebagaian besar adalah yang bergerak pada ranah dua tadi. Mahasiswa ikut sebuah organ dengan motivasi mendapat “ilmu” tambahan selain yang mereka peroleh dari bangku kuliah. Ada juga yang menjadikan organ mahasiswa sebagai tempat melanjutkan atau menyalurkan hobi.
Persma (pers mahasiswa), dimana posisinya dalam ketiga peta tersebut? Inilah yang akan coba sedikit di’pertanya’kan dalam tulisan ini. Persma, setelah hampir dua tahun bersama, aku melihatnya, sebagai wadah atau organ pendidikan. Lebih spesifik lagi sebagai tempat menimba “ilmu” kejurnalistikan. Memang ada beberapa yang lebih condong dengan kehobian seperti fotografi. Namun jika ditelisik lebih dalam maka itu juga bagian dari kejurnalistikan.
Apa sebab dan konsekuensinya jika persma terpaku sebagai organ ‘pembekalan’ ilmu jurnalistik saja, dan pipa penyaluran hobi? Lalu adakah dalam persma sedikit ruang sebagai organ perjuangan? Adakah yang ini lebih sebagai hal “lain” dalam persma sekarang? Jika persma bergerak dalam ranah perjuangan apa yang harus diperjuangkan? Dan bagaimana bentuk perjuangannya? Ini terkait erat dengan visi-misi persma sendiri dan seberapa kuat hal tersebut terimplementasi dalam nafas gerak keorganisasiannya. Dan tentunya ada beberapa hal struktural yang harus berubah dengan perubahan status tersebut.
“Masturbasi ‘Intelektual’ ”
Persma sebagai organ pendidikan kejurnalistikan jelas sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Persma dalam keadaan apapun akan bergerak dalam dunianya sendiri: tulis-menulis (kejurnalistikan). Namun jika ditelisik lebih mendalam sebenarnya persma, jika berada dalam ranah ini saja, menjadi tidak punya taring sama sekali. Apa lagi persma yang diawaki oleh mahasiswa yang notabene “kaum intelektual”[2] memang sebagai sebuah kutukan sepanjang hidup persma untuk terus dalam posisinya ini.
Pada posisi ini, pegiat persma akan mudah saja berhenti dan merasa puas diri dengan adanya bukti konkret: terbitan baik itu berupa majalah, bulletin, atau bahkan jurnal. Entah itu terbit setiap satu minggu sekali, setiap bulan atau bahkan yang sampai setiap tahun bahkan lebih[3]. Persma dengan bukti itu berarti sudah melaksanakan “kewajiban”nya sebagai organ yang bergerak pada ranah kejurnalistikan. Apakah Anda puas dengan ini semua? Meskipun terbitan Anda pas-pasan dan tidak memiliki pengaruh sama sekali karena mengusung jargon dan mutu “ASAL TERBIT”?
Sulit sekali beranjak dari posisi ini jika tidak punya idealisme[4] yang lebih dari sekedar “kewajiban” tersebut. Persma akan terseret dalam labirin pemenuhan kesenangan belaka (hobi dan kebutuhan yang kurang bertanggung jawab). Maka tidak mengherankan jika persma Cuma sebagai tempat “masturbasi intelektual”[5] semata. Bahkan harian Suara Merdeka menulis tentang persma dengan judul yang angker “Matinya Pers Mahasiswa”[6] dengan ilustrasi kuburan dimana batu nisannya bertuliskan persma, entah kapan matinya, tapi di sana banyak rerumputan dan rimba pepohonan kecil-kecil menghiasnya. Persma sudah lama mati, demikian kesimpulan ilustrasi itu.
Dalam diskusi dan juga dalam tulisan tersebut bukan menyinggung persma sudah tidak beroperasi lagi, tapi menggugat tentang matinya peranan dan signifikansi keberadaan persma. Hal inilah yang sebenarnya menjadi persoalan dan harus menjadi perhatian persma saat ini. Dan menurut penulis penyebab utamanya adalah persma yang bergerak pada ranah kejurnalistikan dan hobi sebagai “the only” tujuan dan motivasi pegiat persma.
UKM Penelitian ( buah pemikiran)
Sebagai Unit kegiatan (kehobian) Mahasiswa, persma memang akan sarat dengan ‘pendidikan’ kejurnalistikan dan tempat menyalurkan hobi. Namun sebagai mahasiswa dan pegiat pers kampus, persma sangat relevan jika bergerak dalam ranah pemikiran, mengingat tuntutan zaman. Mahasiswa sebagai pemuda, pada masa reformasi ini, sangat diharapkan bergerak pada rahah ini.
Majalah Gatra dalam edisi khusus nomor 40 tahun 1X-23 Agustus 2003, dengan judul “Revolusi Kaum Muda” mengingatkan akan hal itu dalam rubric mukadimahnya dengan judul: “Para Pemuda: Melahirkan Kembali Indonesia”.
“Soekarno (1901-1970), Hatta (1902-1980), Sjahrir (1909-1960), adalah pemuda trio pemuda yang merebut pena sejarah pada zamannya. Dalam usia likuran, mereka memimpin gerakan perlawanan terhadap penjajahan, dan pada usia 40-an menjadi para pemimpin Negara—di bawah “tekanan” angkatan yang lebih muda lagi: Adam Malik, B.M Diah, Wikana….”.
lebih lanjut dalam tulisan itu menyebutkan tentang kekecewaannya pada orde baru yang telah membelenggu para pemuda.
“Di bawah rezim Soeharto, sepanjang lebih dari 30 tahun kemudian, republic ini mengapung dalam “gelembung ekonomi”, juga kekerasan, dan korupsi yang tiada tara, hingga akhirnya tersungkur dalam tragedy sendiri—tanpa meninggalkan “buah pikiran”, melainkan cerca dan trauma.”(tulisan ditebal-miringkan oleh penulis)
Hal ini dipertegas oleh Ignas Kleden yang pernah menulis tentang pemuda Indonesia pada masa itu yang masuk dalam ranah pers Indonesia:[7]
“… pers Indonesia—berdasarkan warisan sejarahnya—senantiasa ditandai oleh komitmen sosial-politik yang kuat. Pada awalnya pers Indonesia adalah pers perjuangan, yang didukung oleh intelektual-intelektual terbaik dari zaman perjuangan…. Menarik untuk dicatat bahwa hampir semua pemimpin Indonesia dari generasi ’28 adalah penulis aktif dalam pers”.
Maka lahirlah “buah pikiran” dari anak bangsa masa itu: NASAKOM, MADILOG, MANIKEBU, dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan pemuda asuhan zaman reformasi ini? Munurutku inilah sebuah “tugas suci” yang dibebankan kepada pemuda sekarang.
Dalam banyak diskusi, kawan-kawan banyak yang mengeluhkan zaman reformasi yang tanpa landasan “buah pikiran”. Reformasi yang ada menurut mereka Cuma bertujuan menjatuhkan Soeharto belaka. Tanpa landasan pemikiran sebagaimana Soekarno, Hatta, Sjahrir dsb─penulis sependapat dengan mereka. Maka jadilah Indonesia yang mengapung dalam perahu krisis di samudra yang tidak diketemukan ujungnya.
Persma, menurut penulis, idealnya pada saat ini harus bergerak pada ranah-RANAH PEMIKIRAN baik tentang pendidikan, social atau kebangsaan bahkan dunia. Karena jika hanya pada jalur lurus kejurnalistikan, maka jelas persma akan berhadapan dengan pers umum. Dan ini jelas tidak menguntungkan persma dalam segala hal; modal, SDM, profesionalisme, data dokumentasi, segala. Kecuali mungkin idealisme, jika pegiat persma masih punya? Tentang spesifikasi zona pemikirannya ini menurut penulis adalah wewenang pegiat persma sendiri.
[1] Klasifikasi ini sebenarnya sangat simplisistik dan memojokkan motivasi-motivasi yang lain. Namun penulis menganggap ini secara aksiomatik adalah kebenaran, mengingat pengalaman pribadi dan dalam banyak diskusi dengan berbagai mahasiswa memang seperti itulah adanya.
[2] Aku agak menyangsikan tentang ke”intelektual”an awak pegiat persma. Kalau melihat definisnya intelektual sebagaimana Daniel Dhakidae menyebutkan dalam bukunya yang tebal…. Sungguh kesangsian penulis semakin mendapat tempat. Tapi memang seharusnya mahasiswa adalah orang-orang yang intelektual. Kalau tidak mending ke-MAHA-(siswa)-annya dibuang. Siswa saja cukup. Itu sudah terlalu berat disandang jika mau bertanggung jawab secara moral, social, dan tentunya secara akademis.
[3] Yang agak lucu dan menggelikan adalah jika sebuah MAJALAH yang terbit setiap tahun bahkan lebih. Pegiat persma secara tidak langsung dan sengaja membuat definisi majalah sendiri! Mana ada majalah terbit setiap tahun. Itu namanya buku laporan tahunan, namanya!
[4] Mahasiswa yang tidak punya sebuah pegangan atau prinsip (boleh disebut idealisme) maka apa yang menjadi perbedaan mahasiswa dengan orang awam lainnya?
[5] Kata ini penulis dengar pertama kali dari seorang PU LPM Ekulibrium FE UGM dalam sebuah diskusi persma dengan tema “Impotensi Persma” di FE UNS.
[6] Lihat di harian SUARA MERDEKA, Matinya Pers Mahasiswa!, edisi 16 November 2006
[7] Ignas Kleden, “Kebebasan Pers atau kemungkinan Berkomunikasi?” (kata pengantar), dalam bukunya Jacob Oetama, Perspektif Pers Indonesia (Jakarta: LP3ES, 1987). Dalam memasukkan hal ini ada sebagian pegiat persma yang menganggap sebagai “beban sejarah” yang sudah menjadi “romantisme” yang harus segera dilenyapkan. Menurut penulis sejarah adalah “Historia Magistra” yang dari sanalah kita berpijak, bukan melupakannya.
