LPM KENTINGAN UNS SOLO

June 14, 2009

Menyusuri Sebab Ekonomi Dari Buruknya Kualitas Transportasi Umum Di Solo

Filed under: tulisan harian — lpmkentingan @ 4:32 am

Kualitas transportasi publik perkotaan di Indonesia dinilai masih rendah. Permasalahan ini mengemuka karena terdapat berbagai kelemahan yang menjadi sebab terpuruknya kualitas pelayanan transportasi publik perkotaan. Kelemahan tersebut utamanya terjadi dalam perencanaan operasionalisasi transportasi publik. Kelemahan perencanaan bisa dilihat dalam dua sisi yaitu kelemahan perencanaan secara teknis dan kelemahan perencanaan secara ekonomi.

Secara teknis, perencanaan operasional transportasi publik perkotaan belum komprehensif dan mendalam. Menurut Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (Selanjutnya disebut DLLAJ) perencanaan operasional transportasi publik perkotaan belum mencakup semua aspek-aspek yang terlibat di dalamnya seperti pola tata guna lahan, pola jaringan jalan, pola penyebaran penduduk, pola pergerakan, sistem operasi (rute/trayek) dan tingkat pelayanan. (DLLAJ Kota Surakarta, 2007: I-1). Akibatnya, alih-alih berfungsi sebagai solusi permasalahan lalu lintas kota, angkutan umum justru dianggap menjadi salah satu sumber permasalahan lalu lintas perkotaan.

Secara ekonomi, kelemahan perencanaan terjadi dalam estimasi biaya dan manfaat operasional perusahaan penyedia jasa transportasi, Indikator yang paling mudah dilihat dari kelemahan ini adalah perilaku penentuan tarif angkutan umum. Idealnya tarif tercipta dari tarik-menarik antara preferensi harga konsumen dengan pengerahan sumber daya secara optimal dari produsen hingga membentuk sebuah ekuiliribium harga. Namun dalam kasus angkutan umum, keadaan ideal tersebut tidak terjadi. Hal ini disebabkan karena ada indikasi terjadinya kegagalan pasar dalam industri angkutan umum perkotaan. Bentuk dari kegagalan pasar dalam industri angkutan umum adalah bangun pasar industry angkutan umum yang tidak sempurna.

Meskipun angkutan umum merupakan jasa pelayanan publik, tetapi perilaku penentuan tarif jasa angkutan umum mengarah pada oligopoli yang kolusif. Dikatakan sebagai oligopoli yang kolusif karena pihak perusahaan melalui Organisasi Angkutan Daerah (Organda) melakukan kesepakatan mengenai tarif angkutan umum yang berlaku. Dalam keadaan ini perusahaan mendapatkan kekuatan monopoli dalam penentuan tarif. Akibatnya masyarakat menerima tarif yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan tarif saat ada persaingan yang lebih efektif antar perusahaan penyedia jasa transportasi umum perkotaan.

Struktur pasar yang memberi kekuatan monopoli kepada perusahaan penyedia jasa angkutan umum berdampak pula pada kualitas pelayanan jasa dalam industri angkutan umum. Dorongan untuk bersaing dalam bentuk perbaikan kualitas  antar perusahaan akan minim. Akibatnya perusahaan cenderung tidak memaksimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada secara maksimal. Yang berarti kualitas pelayanan angkutan umum tidak bisa menjadi cerminan dari kemampuan maksimal produsen dalam menyediakan pelayanan jasa angkutan umum. Dalam Mangkusubroto, keadaan ini dikatakan sebagai keadaan dimana mekanisme harga tidak dapat berfungsi secara efisien dalam mengalokasikan sumber-sumber ekonomi (Mangkusubroto,1998:27)

Penentuan tarif angkutan yang cenderung monopolistis serta kualitas pelayanan jasa angkutan umum yang statis dan cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun membuat transportasi publik kehilangan daya tariknya di mata masyarakat perkotaan. Efek lanjutan dari angkutan umum yang semakin minim penumpang adalah pendapatan perusahaan dalam indusri transportasi publik menurun, dan investasi di sektor ini menjadi tidak menarik.

Kondisi tersebut diatas lumrah terjadi di kota-kota di Indonesia, termasuk di Kota Surakarta, dimana kualitas angkutan umumnya bisa dikatakan masih rendah. Angkutan umum perkotaan di Kota Surakarta dilayanani oleh tiga jenis moda angkutan yaitu bus kota, angkutan kota (selanjutnya disebut angkot), dan taksi. “Dari ketiga moda tersebut, bus kota merupakan trayek utama di dalam kota, sedangkan angkot merupakan trayek ranting (trayek dalam pemukiman) dan taksi merupakan trayek door to door. (DLLAJ Kota Surakarta, 2006: I-2)

Menurut Evaluasi Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Kota Surakarta tahun 2006, bus kota di Surakarta melayani 22 trayek yang disediakan oleh 22 perusahaan otobus (selanjutnya disebut PO) dengan 19 PO yang masih aktif.  Jika hanya melihat pada banyaknya jumlah PO yang beroperasi di Surakarta, maka struktur pasar angkutan umum di Surakarta  tidak bisa serta merta diidentikan sebagai oligopoli. Tetapi ada dua karakteristik yang dimiliki industri angkutan umum di Surakarta yang menguatkan anggapan bahwa industry angkutan umum di Surakarta berada dalam pasar oligopoli.

Karakteristik pertama bisa dilihat dalam penentuan trayek, dimana PO diberi hak beroperasi di daerah tertentu. Walaupun hak operasional yang diberikan bukan hak ekslusif tetapi rintangan untuk masuk ke pasar cukup besar karena membutuhkan investasi yang besar, skala usaha yang sesuai, dan izin trayek dari Pemerintah Kota (Pemkot). Karakteristik ini mendekati karakteristik oligopoli kolusif berbentuk market sharing cartel. “Market sharing cartel merupakan kartel dimana anggota kartel diberi hak beroperasi di daerah tertentu.” (Soeharno, 2006:194)

Karakteristik kedua dapat dilihat dari perilaku penentuan tarif angkutan umum di Surakarta yang cenderung monopolistis, dimana PO melalui Organda berwenang menjadi pembuat harga (price maker) secara sepihak tanpa memperhatikan keseimbangan permintaan dan penawaran. Dengan demikian hal ini berakibat pada harga tarif yang relatif mahal dan minimnya persaingan antar PO. Efek lanjutannya PO tidak mengerahkan sumber daya yang dimilikinya secara optimal yang dalam kasus transportasi publik bisa dilihat dari pelayanan yang tidak maksimal.

Hasil evaluasi kinerja angkutan umum tahunan dari DLLAJ Kota Surakarta bisa dijadikan acuan dalam melihat seberapa besar ketidakmaksimalan pelayanan tersebut. Ada beberapa indikator yang biasa digunakan dalam evaluasi pelayanan angkutan umum perkotaan. Setiap Indikator digunakan sebagai alat ukur untuk menilai tingkat kinerja. Pengevaluasian dilakukan dengan cara membandingkan nilai indikator yang terjadi di lapangan dengan nilai indikator standar yang berlaku secara internasional.

Di kota Surakarta, indikator yang digunakan dalam menilai pelayanan angkutan umum adalah selisih waktu antar kendaraan (selanjutnya disebut headway),waktu tunggu penumpang, waktu tempuh, kecepatan, tingkat  keterisian (selanjutnya disebut load factor), dan frekuensi kendaraan per jam. Indikator-indikator ini akan dibandingkan dengan standar internasional. Standardisasi yang dipakai di Kota Surakarta adalah standar dari worldbank.

Tabel 1 Hasil Penilaian Indikator Angkutan Perkotaan Kota Surakarta Tahun 2006

Tabel 1 Hasil Penilaian Indikator Angkutan Perkotaan Kota Surakarta Tahun 2006

Dari keenam indikator yang digunakan, kondisi terburuk terjadi pada load factor dimana tidak satupun PO yang memiliki kinerja baik. Rata-rata load factor angkutan umum di Surakarta adalah 33 persen pada jam sibuk dan 17 persen di luar jam sibuk, angka ini jauh di bawah standar worlbank yang 70 persen. Jika dilihat secara ekonomi load factor merupakan satu-satunya indikator yang memperlihatkan kondisi di pasar permintaan angkutan umum, indikator lain merupakan indikator yang memperlihatkan kondisi di pasar penawaran angkutan umum.

Buruknya hasil evaluasi load factor angkutan umum tersebut memperlihatkan dengan sangat jelas bahwa angkutan umum di Surakarta tidak lagi diminati oleh masyarakat. Dampaknya masyarakat Surakarta beralih ke moda transportasi pribadi terutama sepeda motor. Hal ini bisa dilihat dari pertumbuhan pengguna kendaraan pribadi yang tumbuh pesat dari tahun ke tahun. Dalam kurun waktu tujuh tahun jumlah kendaraan pribadi di Surakarta meningkat pesat seperti yang terlihat dalam Tabel.2 dimana mobil pribadi meningkat sebesar 82,97 persen atau rata-rata 11,8 persen per tahun, sepeda motor meningkat sebesar 95,62 persen atau rata-rata 13,66 persen per tahun.

Tabel 2 Data Jumlah Kendaraan Bermotor Yang Terdaftar (Kecuali Militer) Tahun 2001-2008

Tabel 2 Data Jumlah Kendaraan Bermotor Yang Terdaftar (Kecuali Militer) Tahun 2001-2008

Jika fenomena pesatnya pertumbuhan kendaraan pribadi dibiarkan maka bisa dipastikan akan timbul berbagai macam masalah yang akan membebani lalu lintas Kota Surakarta baik sekarang maupun di masa yang akan datang. Permasalahan kelebihan beban pada lalu lintas kota, secara visual dapat dilihat dari adanya kemacetan. Menurut DLLAJ Surakarta tahun 2007, telah ada 17 titik simpang dan 12 ruas jalan yang diidentifikasi sebagai kawasan rawan kemacetan dengan tingkat kronis yang berbeda-beda.

Kemacetan yang selama ini dipandang sebagai sumber masalah transportasi perkotaan sebenarnya adalah dampak dari ketidakmampuan jalan menampung pertumbuhan kendaraan. Efek lanjutan dari kemacetan akan membuat kinerja ekonomi dan kualitas lingkungan kota akan menurun. Dengan demikian perlu dicarikan solusi yang bisa mengatasi permasalahan ini secara tuntas agar Kota Surakarta memiliki angkutan umum yang layak dan manusiawi.

[1] Total Kendaraan= Mobil Penumpang (Dinas, Umum, Pribadi)+ Mobil Beban (Dinas, Umum, Pribadi) + Bis (Dinas, Umum, Pribadi, Sepeda Motor (Dinas dan Pribadi)

January 8, 2008

Persona Manusia

Filed under: tulisan harian — lpmkentingan @ 12:22 pm

Persona Manusia

“Intinya itu, bagaimana selalu mampu menciptakan ruang.
Kita selalu mampu melihat peluang
tempat kita mampu menjadi diri sendiri”.

(sebuah email balasan dari seorang teman DA, pukul 00.13 WIB,
yang dikutip dari perkatann seorang seniman koreografer terkenal Indonesia asal Solo, Sardono W. Kusomo)

Dari perkataan yang lumayan puitis itu, bisa disimpulkan bahwa yang paling penting dari esensialtas manusia untuk menjadi Manusia adalah ruang, yang kalau tidak ada menciptakan ruang-menjadi. Ini hampir senada dengan apa yang dikatakan oleh sastrawan Inggris Bernard Shaw, “Kebanyakan orang percaya pada keadaan. Tapi saya tidak pernah percaya pada keadaan. Orang yang berhasil di dunia ini adalah orang yang bangkit dan mencari keadaan. Keadaan yang mereka inginkan, dan kalau tidak bertemu, menciptakan keadaan-keadaan tersebut.”
Memang ada perbedaan yang signifikan antara kedua perkatann itu namun keduanya berangkat dari satu pemahaman akan pentingnya sebuah ruang. Manusia, siapapun dia, memang tidak akan pernah lepas dengan sebuah ruang untuk fisiknya. Kendati demikian dia akan terus mencari dan mencari saesuatu yang bisa melebihi sebuah ruang untuk sesuatu yang tidak memerlukan ruang. Ia adalah sebuah imajinasi, buah pikiran, sebuah mimpi, untuk membuat dia benar-benar menjadi Manusia.
Yang mungkin agak dinomorduakan dari perkataan Sardono itu adalah “menjadi diri sendiri”; seperti apa sebenarnya sosok “diri sendiri” dalam manusia. Ini adalah sebuah pertanyaan yang ekstra klasik yang sampai sekarng manusia terus meredefinisikannya, mencari batasan-batasan, mencari lingkup-lingkup untuk dimasukkan. “Manusia yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya” (man ‘arafa nafsahu, ‘arafa Rabbahu), yang dulu sering saya dengar di pondok, dari perkataan para sufi-pemikir Islam, dan terus menerus diwariskan pada generasi berikutnya. Konon katannya, itu adalah perkataan Nabi Muhammad. Dan beberapa tahun ini, perkataan itu aku temukan juga dalam buku-buku filsafat Barat klasik sebelum Aristoles dan Sokrates.
Hal ini menunjukkan betapa yang namanya Manusia adalah sebuah entitas super kompleks, yang oleh karenanya ia sama sukarnya dengan Tuhan untuk didefinisikan oleh ciptaan-Nya yang paling sempurnya, manusia sendiri. Lalu apa dan siapa Manusia menurut Tuhan dan manusia? Belum terjawab tuntas, setidaknya untuk seorang Fauzi bodoh. Dan tulisan ini juga bukan untuk menjawab pertanyaan besar tersebut. Tulisan ini Cuma sekadar untuk mendiskribsikannya.
Manusia, menurut saya, akan lumayan menjadi Manusia pada saat dan ruang dimana bagian dari dirinya sedang terbagi dengan manusia yang lain. Ia menjadi manusia yang tidak utuh untuk dirinya sendiri, dan menjadi utuh Manusia untuk dan dengan orang lain. Saat-saat itu mungkin tatkala ia sedang ‘menyatu’ dengan manusia yang lain. Katakanlah dalam ikatan “pacaran-cinta”, pernikahan, atau bisa juga terikat dalam sebuah rasa kemanusiaan (nilai-nilai moral/agama). Setidaknya manusia memiliki perasaan utuh sebagai Manusia pada saat-saat itu.
Contoh klasik sekali akan hal ini adalah penciptaan Hawa oleh Tuhan atas “permintaan” Adam (atau bisa juga menggunakan kata “untuk Adam”). Di sebuah surga yang serba tersedia apapun secara otomatis, adalah sebuah keganjilan akan sosok manusia, Adam, yang masih menginginkan seorang yang “lain”, yang berbeda dalam beberapa hal dengan dia. Adam seperti merasa ada sesuatu yang mengurangi kediriannya, yang mereduksi kemanusiaanya walau Iblis merasa iri atasnya, yang Tuhan dengan tugas memuliakannya. Inilah sebuah bukti betapa manusia memang tidak untuk dengan kelengkapan dan kesempurnaan dirinya, ia membutuhkan sesuatu yang lain.
Yang berikutnya adalah sebuah ikatan religius yang sering dikatakan pernikahan. Dalam ritual ini, proses “pacaran-percintaan” mendapatkan pengesahan secara agama dan legal. Tentu adanya pengesahan tersebut tidak jauh dari kebutuhan akan penyempurnaan kedirian manusia. Bahkan yang lebih ekstrem lagi, untuk memenuhi hal itu adalah mereka merasa perlu untuk melegalkan pernikahan antar kaum pria dengan pria, pun kaum wanita dengan kaum wanita. Entah hal itu dibenarkan oleh agama atau hukum, hal tersebut cukup membuktikan betapa menusia membutuh yang lain untuk kediriannya untuk menjadi Manusia.
Dan terakhir adalah saat manusia berada dalam ruang nilai-nilai moral, agama, atau kemanusiaan. Manusia merasa dirinya Manusia yang utuh pada saat nilai-nilai moral, agama, kemanusiaannya, memerlukan sebuah ruang atau tempat untuk mengaktualisasikan, untuk mengada yang akan menyempurnakannya menjadi Manusia. Contoh untuk hal ini hampir setiap hari terjadi dalam kehidupan kita. Kita merasa bukan manusia pada saat kita tidak menolong orang yang sedang kesusahan dan kita mampu untuk menolongnya. Atau, kita akan menuduh orang lain sebagai “binatang” pada saat orang lain tersebut kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.
Orang yang cukup banyak persedian nilai-nilai tersebut dan bisa mengaktulisasikannya dalam tindakan nyata, maka dia akan merasa bahwa dia sebagai Manusia. Bahkan yang melebihi dari yang biasa dilakukan oleh “manusia”biasa akan dipanggil seorang “nabi”. Dan memang seroang nabi adalah seorang yang memiliki seluruh kapasitas kemanusiaan yang utuh. Sekali lagi hal tersebut di atas membuktikan bahwa kemanusiaanya Manusia terikat oleh manusia yang lain.
Tiga contoh tersebut menyimpulkan bahwa ruang-ruang dalam kehidupan manusia untuk menjadi Manusia memang bukan sesuatu yang konkret bahkan cenderung non-konkret, abstrak, yang mnyentuh sisi-sisi manusia yang paling susah untuk didefinisikan. Dan sepertinya sebuah pendefinisian akan mereduksi dan mengurangi sisi-sisi Manusia itu sendiri. Oelh sebab itu, sebuah perasaan tidak akan pernah terdefinisikan oleh berjuta kata-kata untuk membatasinya. Ia seluas dan sesulit manusia itu sendiri. Definisi tidak bisa menyentuh, walau Cuma sisi luarnya saja.
Maka sungguh sebuah keharusan untuk bersyukur bagi Manusia yang berani merelakan kediriannya sendiri untuk menjadi Manusia. Dia tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sang Budhis yang merelakan bagian dirinya untuk orang lain.
Maka bersyukurlah Manusia yang memiliki Cinta-Kasih, dan jagalah ia sebagai sebuh cinta yang ber-”manusia”, bukan yang hewani. Dan bersyukurlah bagi mereka yang mengaktualisasikan nilai kemanusiaanya untuk manusia.
Karena: betapa sedikitnya semua itu ditemukan oleh Manusia, meski semua itu ada padanya! Dan bagi Anda yang bersyukur, selamat Anda berhak merayakan Tahun Baru.

Solo, Senin, 31 Desember 2007, pukul 18.30 WIB.©Fauzi, jëlêk.

poetry

Filed under: tulisan harian — lpmkentingan @ 12:01 pm

BERPUTAR (segalanya teruji)
romansa hidup tak pernah berhenti
meski gulungan angin menjerat begitu hebat
walau pohon hijau luluh lantah sebab terbang
atau bukit-bukit kecil terpotong sedikit demi dikit
roda tak mungkin macet di tengah jalan

hari lain baru berebut
berganti waktu tanpa lelah
bersiap menjadi si pembaharu
terkadang terpental oleh nafas sendiri

kotak jarum selalu saja bergulir
bermenit serta detakan terus
saja menderu laju
tiada tengokan dan tanpa
mengenal apa itu maaf

wah, lama terpekur tajam juga
tertuju pada satu arah
maju terus!

Padahal babak belur
Permukaannya
Ah, peduli amat!

Bola selalu saja menggelinding
20feb06

January 2, 2008

SCRIPTA MANENT

Filed under: tulisan harian — lpmkentingan @ 8:50 am

SCRIPTA MANENT:

Dari Catatan Ke Gerakan, Pembelajaran, Sampai Pencerahan

“Kata Adalah Senjata”, Sub Commandante Marcos

Adalah sangat menarik dan barang kali akan sedikit kontroversial bagi sebagian orang Indonesia apabila kita menilik perkataan pemikir Prancis, Jean Paul Sartre: “Telah ku temukan agamaku; tak ada yang lebih penting dari buku! Aku memandang perpustakaan sebagai tempat ibadahku!”. Pengakuan tersebut menyiratkan secara eksplisit betapa sebuah catatan, dalam bentuk buku sampai catatan harian baik manual atau elektrik, akan menjadi sangat penting.

Sartre barang kali insaf betapa pentingnnya sebuah buku. Buku nilainya sama besar dan pentingnya dengan agama itu sendiri. Namun maksudnya, saya kira, adalah sebuah pembacaan atas berbagai hal, dulu, sekarang, dan yang akan datang. Semua ini memang tertera dalam berbagai kitab suci agama-agama manusia.

Dengan berbagai catatan itu manusia bisa meringkas-melipat berbagai fiksasi, keterbatasan-keterbatasan, yang diakibatkan oleh ingatan yang lemah-terbatas, waktu, sampai ruang. Buku membuat kesalahan yang pernah terjadi tidak usah lagi diulangi oleh manusia pembaca. Dalam pembacaan (ulang)-nya terhadap berbagai hal, ia telah bergerak pada penyelamatan diri, kolektif, bahkan sebuah dunia. Inilah inti dari berbagai agama, saya kira. Sebuah penyelamatan terhadap hakekat kemanusiaan Manusia.

Namun untuk sampai ke sana adalah sebuah keniscayaan bagi manusia untuk mulai menulis sambil membaca: sebuah ibadah pertama dalam kehidupan manusia modern dan klasik. Keduanya harus menjadi sebuah kebudayaan yang mengakar dalam tradisi, mulai dari diri pribadi, tenntunya. Inilah yang seharusnya menjadi inti sebuah gerakan kemanusiaan (termasuk gerakan mahasiswa!).

Dan gerakan ini akan menjadi lengkap jika ditambah kata pemebelajaran: Gerakan Pembelajaran. Sebuah gerakan yang mengandaikan bahwa manusia adalah entitas-yang-menjadi-sempurna, dengan terus menerus belajar. Untuk itu ia membutuhkan sebuah alat untuk berevaluasi: tulisan, baik dari diri sendiri atau orang lain.

Pada tahap pembelajaran ini, manusia akan terus bergulat dengan berbagai permasalahan dari yang sepele sampai kompleks-filosofis. Dua-duanya memiliki ruang tersendiri. Manusia, juga pada tahapan ini, akan terus bergelisah, resah, galau, atas pelbagai ketimpangan, ketidakadilan, keculasan, kegilaan, dan sebagainya. Semua ini akan menjadi proses kreatifnya dalam belajar, seperti halnya Gie, Wahib, Frank sampai yang terbaru anak-anak SMA mbeling di Amerika, para Freedom Writers.

Dan sebagai produk terakhir sekaligus tujuannya adalah pencerahan-penyelamatan atas berbagai permasalahan yang menimpa diri kita atau, kalau bisa, dunia tempat kita menginjakkan kaki. Pertanyaannya kemudian adalah beranikah kita membuat catatan-catatan, meski kecil-kecilan? Permasalahannya adalah bukan kita tidak bisa, tapi sering kali kita tidak menyadari betapa pentingnya catatan tersebut. Sekali lagi beranikah dan maukah kita?.Saya tantang Anda untuk menulis!

Terakhir, “Siapa yang tidak menulis akan dilupakan oleh sejarah!”, kata sastrawan kita, Pramoedya Ananta Toer. Scripta manent: yang tertulis akan abadi, sebuah pepatah latin.

Solo, Rabu, 2 January 2008. pukul 15.45 WIB © Fauzi, jélèk.

WANITA

Filed under: tulisan harian — lpmkentingan @ 8:00 am

WANITA

 

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki
yang bertanya pada ibunya. “Ibu, mengapa
Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab
aku wanita”. “Aku tak mengerti” kata si
anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan
memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak
akan pernah mengerti….”

Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya.
“Ayah, mengapa Ibu menangis?, Ibu
menangis tanpa sebab yang jelas”. sang
ayah menjawab, “Semua wanita memang
sering menangis tanpa alasan”. Hanya itu
jawaban yang bisa diberikan ayahnya.

Sampai kemudian si anak itu tumbuh
menjadi remaja, ia tetap bertanya-tanya,
mengapa wanita menangis. Hingga pada
suatu malam, ia bermimpi dan bertanya
kepada Tuhan, “Ya Allah, mengapa wanita
mudah sekali menangis?”

Dalam mimpinya ia merasa seolah Tuhan
menjawab, “Saat Kuciptakan wanita, Aku
membuatnya menjadi sangat utama.
Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan
seluruh beban dunia dan isinya, walaupun
juga bahu itu harus cukup nyaman dan
lembut untuk menahan kepala bayi yang
sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat
melahirkan dan mengeluarkan bayi dari
rahimnya, walau kerap berulangkali ia
menerima cerca dari anaknya itu.
Kuberikan keperkasaan yang akan
membuatnya tetap bertahan, pantang
menyerah saat semua orang sudah putus asa.

Kepada wanita, Kuberikan kesabaran untuk
merawat keluarganya walau letih, walau
sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan
kasih sayang untuk mencintai semua
anaknya dalam kondisi dan situasi
apapun. Walau acapkali anak-anaknya itu
melukai perasaan dan hatinya. Perasaan
ini pula yang akan memberikan kehangatan
pada bayi-bayi yang mengantuk menahan
lelap. Sentuhan inilah yang akan
memberikan kenyamanan saat didekap
dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk
membimbing suaminya melalui masa-masa
sulit dan menjadi pelindung baginya.
Sebab bukannya tulang rusuk yang
melindungi setiap hati dan jantung agar
tak terkoyak.

Kuberikan kepadanya kebijaksanaan dan
kemampuan untuk memberikan pengertian
dan menyadarkan bahwa suami yang baik
adalah yang tak pernah melukai istrinya.
Walau seringkali pula kebijaksanaan itu
akan menguji setiap kesetiaan yang
diberikan kepada suami agar tetap
berdiri sejajar, saling melengkapi dan
saling menyayangi.

Dan akhirnya Kuberikan ia air mata agar
dapat mencurahkan perasaannya. Inilah
yang khusus Kuberikan kepada wanita,
agar dapat digunakan kapan pun ia
inginkan. Hanya inilah kelemahan yang
dimiliki wanita, walaupun sebenarnya air
mata ini adalah air mata kehidupan”.

 

Penulis Mblink…

esei-esei

Filed under: tulisan harian — lpmkentingan @ 6:43 am

Adventus dan Tuhan yang Tak (Pernah) Selesai

TRISNO S SUTANTO

“Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tetapi bukan iman kepada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran.” Bisa juga ditambahkan: Tuhan yang tak (pernah) selesai.
• Untuk GM, dengan hormat

Berhubung judul esai ini bisa dianggap mengada-ada, atau bahkan rentan dituduh sirik, maka biarlah ditegaskan dari awal bahwa judul esai ini, seperti juga perspektif yang hendak dikembangkan di sini, berutang pada buku baru Goenawan Mohamad, sebuah kumpulan 99 tatal yang memukau, Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai (Jakarta: KataKita, 2007).

Memang saya tidak akan membahas hal-hal lain yang juga tidak selesai dari berbagai tatal yang berserakan dalam buku itu, tetapi “hanya” menyinggung soal Tuhan yang, bagi saya (dan saya yakin bagi GM juga), suatu perkara yang tak (pernah) selesai. Saya berutang padanya karena esai ini juga ditulis, sama seperti buku itu, “di masa yang seperti kita alami sekarang, ketika Tuhan tak bisa ditolak dan agama bertambah penting dalam hidup orang banyak, memberi kekuatan, menerangi jalan, tetapi juga membingungkan dan menakutkan”.

Saya yakin GM tidak mengada-ada. Hari-hari ini nama Tuhan diserukan dan dipanggil pada setiap titik dalam perjalanan waktu hampir tanpa jeda. Dan “agama”—karena perkara Tuhan, paling tidak di negeri ini, hampir tak (pernah) dapat dilepaskan darinya—serba hadir (omnipresent) dalam setiap ruang kehidupan, dari yang paling intim personal sampai pada urusan publik. Agama telah menjadi bahasa, atau bahkan satu-satunya bahasa yang memberi gramatika dan kosakata untuk menangkap, merumuskan, dan menanggapi perkara-perkara hidup sehari-hari. Saya pernah menengarai (Bentara, 1 April 2006) bahwa keserbahadiran agama menjadi bermasalah karena wajah ganda keterbelahan akut yang dewasa ini begitu kuat melanda pandangan keagamaan kita: pada satu sisi, bahasa itu tidak pernah melalui kritik-dakhil yang sangat dibutuhkan; dan, pada sisi lain, bahasa itu dicangkokkan tanpa perspektif sosiologis.

Lewat ke-99 tatalnya GM seperti mencari cara baru untuk membicarakan Tuhan—dan agama—yang, mungkin, dapat meretas jalan keluar dari perangkap wajah ganda krisis itu, sembari mengakui bahwa setiap upaya membicarakan Tuhan berarti memasuki pembicaraan yang tak (pernah) selesai. Esai ini mau mengikuti pergulatan GM dalam mencari kosakata dan cara-cara baru dalam membicarakan Tuhan. Saya kira GM adalah salah satu dari sedikit orang di negara ini yang mau bergumul dengan persoalan pelik tentang keterbatasan bahasa untuk mengungkapkan sesuatu yang, pada dasarnya, tak terpermanai, tidak dapat dikatakan, atau dikonsepkan.

Keterbatasan dan keniscayaan bahasa

Persis pada titik itu GM menyentuh persoalan inti dari setiap proyek teologi yang berambisi mau membicarakan Tuhan, membuat logos tentang theos—sebuah proyek yang, sudah dari sejak awal mulanya, memang problematis. Saya teringat pada anekdot yang diceritakan Dorothee Sšlle, perempuan teolog dari Jerman saat mengunjungi Martin Buber. Ketika filsuf Yahudi itu bertanya apa profesinya, Sšlle menjawab singkat: teolog. Buber memandanginya, lalu berkomentar pendek, “Bagaimana mungkin membicarakan yang tak dapat dibicarakan?”

Bagi Buber, orang yang besar dalam tradisi Yudaisme yang bahkan melarang menyebut nama YHWH dalam ibadah mereka di sinagoga, ambisi teologi untuk membuat logos tentang theos sungguh muskil. Upaya seperti itu dengan mudah terjebak menjadi—untuk menyitir pemikir kontemporer dari Perancis, Jean-Luc Marion, yang sering dikutip GM—”berhala konsep” yang kerap kali justru “telah menggantikan Tuhan-itu-sendiri” (hlm 157). Akan tetapi, pada saat bersamaan orang juga harus menyadari bahwa bahasa yang terbatas dan “selamanya terlibat dalam kemusrikan” itu juga dibutuhkan untuk membahasakan Tuhan, walau “Di depan Ilahi, Yang Maha Tak-Tersamai, lidah tak bisa bertingkah” (hlm 54).

Posisi yang serba-taksa ini, yakni kebutuhan yang niscaya akan bahasa tetapi sekaligus kesadaran akan keterbatasannya, telah menjadi ruang hermeneutis kontemporer untuk membicarakan pengalaman religius yang selalu memikat, tetapi menakutkan. Agaknya baru pada masa sekarang inilah kesadaran akan keterbatasan bahasa justru menjadi bahasa baru dalam mengungkapkan Yang Maha Tak-Tersamai. Kita harus menelisik soal ini lebih dekat.

Memang benar, kesadaran akan keterbatasan bahasa sudah sejak lama disuarakan oleh para mistikus besar. Bahkan, dalam Buddhisme Zen kesadaran ini sering diungkapkan dengan cara yang ekstrem. Kasus Shanhui, salah seorang master Zen yang paling luar biasa dan dijuluki sebagai Bodhisattva, bisa disebut contoh paradigmatis. Suatu kali dikisahkan Kaisar Wu dari Dinasti Liang (502-549) meminta Shanhui membabarkan Sutra Intan. Sang master datang, naik podium yang telah disediakan, lalu memukul meja dan pergi. Sang Kaisar terkejut dan bertanya apa artinya. “Tidakkah Paduka memahami?” kata Shanhui. “Saya telah selesai memberi ceramah…”.

Boleh jadi tindakan eksentrik para guru Zen seperti Shanhui itulah yang membuat David J Kalupahana menggolongkan tradisi kerohanian Zen sebagai “tradisi tanpa suara” (the voiceless tradition). Soalnya, para guru Zen sangat menyadari betapa terbatas kata-kata untuk mengungkapkan kebuddhaan, satori, kebenaran, atau bahkan Zen itu sendiri. Metafora yang sering dipakai dalam Zen untuk melihat bahasa adalah seperti jari yang menunjuk bulan. Bukan jari, atau bahasa yang penting, tetapi bulan itu sendiri. Namun, pengalaman keagamaan kerap memperlihatkan bahwa orang sering sibuk berdebat atau bahkan bertempur sampai berdarah-darah justru tentang jari yang menunjuk, rumusan-rumusan dogmatis yang ada, ritus atau aturan hukum, ketimbang mencari pengalaman religius yang otentik, yakni perasaan akan kehadiran Tuhan yang selalu, kata GM, “luput dari alfabet” karena alfabet, pada akhirnya, hanyalah “sebuah organisasi, urutan yang hanya dihafal dan tak perlu dihayati” (hlm 31).

Zen memang contoh yang ekstrem tentang kesadaran akan keterbatasan kata-kata dalam menangkap dan membahasakan Realitas paling ultim yang kita sebut “Tuhan”. Namun, kita juga menyadari bahwa, betapa pun terbatasnya kemampuan kata-kata, pengalaman religius yang otentik tetap butuh dibahasakan. Tanpa pembahasaan itu, pengalaman religius—atau pengalaman apa pun!—hanya akan menjadi momen peristiwa sesaat, sebelum akhirnya lenyap dalam kesunyian. Atau, yang juga sering terjadi, pengalaman itu hanya menjadi milik segelintir orang “terpilih” dan tidak dapat dibagikan.

Sebagai seorang penyair liris, GM sangat menyadari ketaksaan ini. Momen-momen puitis selalu tidak pernah dapat direngkuh sepenuhnya oleh kata-kata. Akan tetapi, pada sisi lainnya, kata-kata, terutama dalam puisi, selalu juga menyimpan ruang-ruang di mana enigma memperoleh suakanya, yang membuat setiap konstruksi tentang realitas jadi tidak pernah utuh, komplet, atau final, tetapi selalu terbuka bagi misteri yang melangkaui bahasa. Seperti Boris Pasternak ketika mendefinisikan puisi dalam empat larik padat yang dikutip GM (hlm 55):

Siul yang jadi matang di saat sekejap

Kertak suara es di angin kedap

Malam yang mengubah hijau jadi beku

Duel suara bulbul dalam lagu

Setiap larik adalah momen peristiwa yang sekejap muncul untuk kemudian hilang. Namun, sang penyair menyadari betapa tak ternilai momen-momen itu sehingga butuh dibahasakan, betapa pun terbatasnya, agar dengan itu dapat dibagikan dan disyukuri. Apa yang dilakukan Pasternak hanyalah “membikin abadi yang kelak retak”, seperti judul tinjauan A Teeuw yang memesona tentang syair-syair GM.

Saya kira tugas seorang teolog pada masa sekarang, pascakritik Kant, kegilaan Nietzsche, dan die Kehre Heidegger, mirip dengan tugas para penyair: dengan keterbatasan kata-kata mau mengabadikan yang kelak retak itu! Bagian berikut mau mengelaborasinya.

Menantikan Sang Mesias

Kritik Kantian yang mencerminkan ghirah Pencerahan telah menjadikan cara bicara metafisik tentang Tuhan menjadi tidak mungkin karena harus tunduk pada batas-batas akal budi semata. Di awal abad lalu Nietzsche mengabarkan kematian Tuhan metafisik sembari mengajak kita “berteologi dengan palu”. Dan, Heidegger mengumumkan berakhirnya onto-teologi, lalu mengganti bahasa diskursif filsafat menjadi puisi.

Masing-masing raksasa pemikiran itu telah mendorong proyek teologi sampai pada batas-batas akhir daya ucapnya. Lewat mereka kita menyadari bahwa ambisi teologi untuk membuat logos tentang theos adalah sebentuk kemustahilan, atau akan menemui jalan buntu (aporia) jika memang mau dengan jujur dijalani. Akan tetapi, kesadaran akan aporia itu justru menjadi retakan di mana Yang Maha Tak-Tersamai menyingkapkan Wajah-Nya. Momen tersebut—”kejadian” atau l’vnement-nya Alain Badiou yang berkali-kali disebut GM—tidak pernah dapat ditebak atau direncanakan, tetapi selalu “mengguncang dan mengubah keadaan yang berlaku, seakan-akan dari nihil” (hlm 39).

Dalam l’vnement yang dirujuk Badiou, waktu memasuki matra dan memiliki kualitas yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Di situ orang tidak lagi berbicara chronos, waktu sehari-hari yang dapat diukur dan digunakan, tetapi memasuki matra kairos, kejadian yang tiba secara mendadak dan penuh misteri. Ini seperti kedatangan sang Mesias dalam cerita aneh Maurice Blanchot. Menurut Blanchot, mari kita andaikan sang Mesias, dengan menyamar, datang di pintu gerbang Roma, tinggal bersama kaum gelandangan dan penderita lepra. Namun, walau orang mengenalinya, mereka akan tetap bertanya pada Sang Mesias, “Kapan kau akan datang?” sebab bukan kedatangan itu sendiri yang menjadi pokok, tetapi justru penantian (adventus) yang penuh harapan.

Cerita Blanchot, yang kerap didiskusikan Derrida maupun Levinas, mau menggarisbawahi aspek yang selama ini sering terlupakan dalam kesibukan teologi: bahwa Sang Misteri lebih tepat diungkapkan sebagai janji ketimbang pengada (being). Blanchot seperti melukiskan apa yang dirayakan selama minggu-minggu advent dalam liturgi gerejawi: bukan hanya penantian akan Natal, kelahiran Yesus yang “menandai Yang Suci masuk merasuk ke dalam hidup sehari-hari dan Yang Kekal menempuh laku temporal” (hlm 120), tetapi sekaligus juga pengharapan akan parousia, saat di mana—dalam ungkapan eskatologis Paulus—”Allah menjadi semua di dalam semua”. Maka, bahasa Sang Misteri bukanlah bahasa kepastian, peraturan, ritus, hukum, atau rumusan dogmatis, melainkan bahasa harapan yang selalu terbuka bagi masa depan yang tidak pernah dapat diduga, bagi l’vnement.

Dengan kata lain, kesadaran akan keterbatasan daya ucap teologi untuk merumuskan Yang Maha Tak-Terpermanai justru membuka retakan yang memungkinkan bahasa harapan kembali menyapa kita. Bagi GM, dalam tulisannya yang lain beberapa waktu lalu (Bentara, 6 Oktober 2007), lebih baik orang menerima keterbatasan bahasa sebagai sesuatu yang tak terelakkan, dan belajar untuk “hidup dengan janji: kelak ada Makna Terang yang akan datang—betapapun mustahil. Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tetapi bukan iman kepada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran.” Bisa juga ditambahkan: Tuhan yang tak (pernah) selesai.

Saya yakin itulah kosakata baru yang sangat kita butuhkan untuk membahasakan kembali pengalaman religius tentang kehadiran Tuhan yang selalu “luput dari alfabet” itu. “Tiap masa,” tulis GM, “selalu ada orang yang mengembara dan membuka kembali pintu ke gurun pasir tempat Musa—yang tak diperkenankan melihat wajah Tuhan—mencoba menebak kehendak-Nya terus-menerus. Di sana, tanda-tanda tetap merupakan tanda-tanda, bukan kebenaran itu sendiri. Di sana banyak hal belum selesai” (hlm 41). Kumpulan ke-99 tatal GM adalah semacam noktah-noktah dari pengembaraannya ke gurun pasir, locus classicus dalam cerita Alkitab bagi l’vnement, saat di mana Sang Misteri menyingkapkan Wajah-Nya.

And the rest is silence, kata Hamlet.

TRISNO S SUTANTO Direktur Eksekutif MADIA (Masyarakat Dialog Antar Agama), Jakarta

Blog at WordPress.com.